Oke, ini dia kisah dracin pendek dengan permintaanmu: **Aku Mencintaimu dalam Setiap Kesalahan yang Kita Sembunyikan** Kabut tipis merayapi lereng Gunung Cangshan, menyelimuti Paviliun Bulan seperti kerudung sutra abu-abu. Di sinilah, sepuluh tahun lalu, Li Wei menghilang, ditelan malam yang dingin dan rumor pengkhianatan. Semua orang mengira dia mati. *Semua orang salah.* Sekarang, dia kembali. Bukan sebagai Li Wei yang dulu, tapi sebagai Wei Lan, seorang ahli strategi misterius yang kehadirannya membuat Kaisar gemetar. Penampilannya tenang, anggun, namun matanya menyimpan badai yang siap menerjang. "Kau kembali," suara itu lirih. Kaisar, dulu sahabatnya, kini duduk di singgasana, wajahnya diukir keraguan dan ketakutan. "Li Wei... atau Wei Lan? Siapa kau sebenarnya?" Wei Lan tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Aku adalah jawaban atas pertanyaan yang tak berani kau tanyakan, Yang Mulia. Pertanyaan tentang malam itu, tentang pengkhianatan... tentang cinta." Aula itu sunyi. Lilin-lilin menari-nari, melemparkan bayangan panjang yang mengancam. Udara terasa berat, dipenuhi aroma dupa dan pengkhianatan yang mengendap. "Kau tahu, Wei," Wei Lan melanjutkan, suaranya selembut hembusan angin, "Aku selalu mencintaimu. Mencintai ambisimu, mencintai kekuasaanmu... mencintai caramu *mengkhianatiku*." Kaisar tersentak. "Aku tidak pernah..." "Jangan berbohong, Wei," Wei Lan memotong dengan tenang. "Kebohonganmu adalah melodi yang paling familiar bagiku. Kau ingin tahta, dan aku... adalah rintanganmu. Jadi, kau menyingkirkanku. Sayangnya bagimu, aku *tidak semudah itu mati*." Dia mendekat, langkahnya ringan namun penuh ancaman. "Kau pikir aku dendam? Tidak. Dendam terlalu sederhana. Aku menginginkan sesuatu yang lebih... mendalam. Aku ingin melihat kerajaan yang kau bangun runtuh di hadapanku. Aku ingin melihatmu *memohon*." Wei Lan berhenti tepat di depan Kaisar. Matanya, sedalam jurang, menusuk jiwa. "Dan ironisnya, Yang Mulia, kau sendirilah yang membawaku kembali. Kau terlalu bodoh untuk melihat bahwa setiap langkah, setiap keputusan, setiap aliansi yang kau buat... semua telah *kuatur* sejak awal." Kaisar menatapnya, matanya dipenuhi kengerian. Kebenaran meremukkan hatinya seperti kaca yang jatuh. Selama ini, dia hanyalah pion dalam permainan Wei Lan. Permainan yang dia sendiri tidak pernah mengerti. Wei Lan membungkuk sedikit, senyumnya semakin lebar. "Kau tahu, Wei, terkadang... *korbanlah yang memegang pisau*." Dan dengan kalimat itu, Kaisar terdiam. Kebenaran yang pahit telah membungkamnya, selamanya.
You Might Also Like: 0895403292432 Jual Skincare Anti
Share on Facebook