Baiklah, inilah kisah dracin dengan judul "Aku Menjaga Jarak Agar Tak Terluka, Tapi Tetap Saja Berdarah," yang kubuat sesuai permintaanmu: **Aku Menjaga Jarak Agar Tak Terluka, Tapi Tetap Saja Berdarah** Hujan jatuh di atas pusara. Bukan gerimis, tapi curahan air mata langit yang tumpah ruah, membasahi nisan batu dan tanah merah yang masih baru. Di bawah payung hitam yang dipegang erat seorang pria berjas kelabu, aku berdiri. Atau lebih tepatnya, *melayang*. Aku adalah roh. Jiwa yang tertahan, terikat oleh benang tak kasatmata yang mengaitkanku pada dunia fana. Dulu, aku adalah Li Wei. Sekarang, aku hanyalah bayangan yang berbisik di antara rintik hujan dan desau angin. Aku meninggal dalam kecelakaan. Kecelakaan yang *terlalu* rapi untuk disebut kebetulan. Sebelum sempat mengungkap kebenaran yang pahit, sebelum sempat mengatakan betapa aku… ah, sudahlah. Kini aku kembali. Bukan untuk membalas dendam, bukan untuk menuntut keadilan yang mungkin tak pernah ada. Aku hanya ingin menuntaskan apa yang tertinggal. Rumah tua kami, tempat kenangan tumbuh dan layu, kini terasa sunyi. Lebih sunyi dari malam-malam sepi yang dulu kulalui. Bayangan diriku *menolak pergi* dari sana. Ia berdiri di ambang pintu, menatap ke dalam, seolah menunggu seseorang yang tak akan pernah datang. Setiap malam, aku menyusuri lorong-lorong waktu. Kembali ke saat-saat bersamanya. Saat ia tertawa, saat ia menangis, saat ia memelukku erat seolah tak ingin melepaskan. Kenangan itu begitu *terang*, kontras dengan kegelapan abadi yang kini mengelilingiku. Aku melihatnya. Dia, Lin Xi, berdiri di depan meja kerjaku. Tangannya gemetar memegang foto kami berdua. Air mata menetes di atas kaca yang melindungi senyum kami yang dulu. Aku ingin menyentuhnya, menghapus air matanya, mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Tapi aku hanyalah roh. Sentuhanku tak berarti apa-apa selain hembusan angin dingin. Aku mengikutinya. Ke tempat-tempat yang dulu sering kami kunjungi. Taman bunga sakura yang selalu bersemi di musim semi. Kedai teh tempat kami menghabiskan sore dengan obrolan ringan. Pantai berpasir putih tempat kami berjanji untuk saling menjaga selamanya. Di setiap tempat itu, aku melihatnya. Terluka. Hatinya hancur berkeping-keping seperti kaca yang pecah. Aku menjauh, berusaha menjaga jarak agar tak semakin melukainya. Tapi percuma. Keberadaanku, bahkan sebagai roh, tetap saja menyakitkan. Aku menemukan petunjuk. Sepucuk surat yang disembunyikan di balik bingkai foto. Surat dari seseorang yang mengaku tahu tentang kecelakaan itu. Sebuah nama tertera di sana. Nama yang tak asing bagiku. Nama yang dulu pernah kupercaya. Kemarahan membara di dalam diriku. Aku ingin berteriak, menuntut pertanggungjawaban. Tapi aku tahu, balas dendam tak akan membawa kedamaian. Yang kubutuhkan hanyalah mengungkap kebenaran, agar Lin Xi bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang. Aku menyusup ke dalam mimpi orang itu. Menunjukkan potongan-potongan kejadian yang selama ini disembunyikannya. Memaksanya untuk mengakui perbuatannya. Keesokan harinya, dia menyerahkan diri kepada polisi. Lin Xi menatapku dari kejauhan saat aku berdiri di samping pusaranku. Matanya basah, tapi ada seulas senyum tipis di bibirnya. Aku tahu, dia mengerti. Dia tahu bahwa aku melakukan ini untuknya. Bukan untuk diriku sendiri. Kini, benang yang mengikatku pada dunia fana mulai menipis. Aku merasa ringan. Aku bisa merasakan angin bertiup dengan lebih lembut. Aku bisa melihat cahaya yang semakin terang di kejauhan. Akhirnya, aku mengerti. Apa yang kucari bukanlah balas dendam, tapi *kedamaian*. Kedamaian untuk diriku sendiri, dan kedamaian untuk Lin Xi. Aku menatapnya untuk terakhir kalinya. Mungkin, setelah ini, aku akan benar-benar pergi… dan semuanya akan baik-baik saja, bukan begitu?
You Might Also Like: 7 Fakta Tafsir Memberi Makan Kerbau
Share on Facebook