**Air Mata yang Menjadi Embun Pagi** Di tengah gemuruh notifikasi ponsel yang tak henti-hentinya berdentang, sebuah kisah cinta modern lahir, tumbuh, dan akhirnya layu. Di antara *kilauan* layar dan aroma kopi pagi yang pahit, aku mengenal Lin, melalui sebuah grup diskusi daring tentang film klasik. Suaranya, yang kurasakan lewat untaian kata di kolom komentar, terasa begitu dekat, begitu *intim*. Kami bertukar cerita, mimpi, dan lelucon receh hingga larut malam. Hujan kota menjadi saksi bisu percakapan kami yang *tak ada habisnya*, membahas segala hal, kecuali satu: masa lalu. Lin, dengan senyumnya yang selalu tersembunyi di balik avatar bunga sakura, adalah misteri yang membuatku penasaran. Ada kesedihan samar yang terasa dalam setiap kalimatnya, sebuah kehilangan yang tak terucapkan. Aku mencoba mencari tahu, menyusuri jejak digitalnya, tapi yang kutemukan hanyalah dinding sunyi. Waktu berlalu, dan hubungan kami semakin dalam. Kami bertukar nomor telepon, bertemu di kedai kopi favoritku, dan berjalan-jalan di taman kota saat senja. Sentuhan tangannya terasa seperti *aliran listrik*, membangkitkan perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Namun, kebahagiaan itu terasa rapuh, seperti embun pagi yang akan menguap saat matahari terbit. Suatu malam, Lin menghilang. Notifikasi darinya berhenti. Pesan-pesan yang kukirimkan hanya berujung pada tanda centang satu. Aku dilanda *KEBINGUNGAN*, *KEPUTUSASAAN*, dan rasa sakit yang mendalam. Aku mencari Lin ke mana-mana, menghubungi teman-temannya, bahkan mendatangi apartemennya. Tapi, semua sia-sia. Lin lenyap tanpa jejak, meninggalkan aku dengan sisa chat yang tak terkirim dan kenangan yang tak bisa kuhapus. Aku menghabiskan berbulan-bulan dalam kesedihan. Setiap hujan kota mengingatkanku pada senyumnya, setiap aroma kopi mengingatkanku pada hangatnya tangannya. Aku mencoba mencari jawaban, menggali masa lalunya, hingga akhirnya aku menemukan sebuah rahasia. Lin bukan nama aslinya. Dia adalah seorang pelukis yang dulunya terkenal, namun menghilang setelah mengalami tragedi yang menghancurkan hidupnya. Tragedi itu melibatkan cinta, pengkhianatan, dan kehilangan yang tak terperi. Aku mengerti sekarang. Lin menghilang karena dia takut melukai diriku, takut mengulangi kesalahan masa lalunya. Dia menghilang untuk melindungiku. Tapi, aku tidak bisa begitu saja menerimanya. Aku merasa dikhianati, dipermainkan. Aku butuh penutup. Maka, aku merancang sebuah *balas dendam yang lembut*. Aku melukis sebuah potret Lin, potret dirinya yang paling jujur, paling rapuh. Aku memajangnya di galeri seni terkenal, dengan judul "**Embun Pagi yang Hilang**". Potret itu menjadi viral. Orang-orang terpesona oleh keindahannya, oleh kesedihan yang terpancar dari matanya. Lin pasti akan melihatnya. Beberapa minggu kemudian, aku menerima sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal. Isinya hanya satu kata: "**Maaf**". Aku tersenyum. Ini adalah akhir yang kutunggu-tunggu. Aku membalas pesannya dengan satu kalimat: "Kenanganmu akan selalu menjadi embun di hatiku, meskipun matahari telah terbit." Lalu, aku memblokir nomor itu. Aku menutup ponselku, dan berjalan pergi, meninggalkan semua kenangan di belakang. Aku tidak tahu ke mana aku akan pergi, tapi aku tahu satu hal: aku *bebas*. ... dan mungkin, hanya mungkin, dia pun juga.
You Might Also Like: Absurd Tapi Seru Kau Menatapku Dengan
Share on Facebook