Oke, ini dia kisah pendek yang terinspirasi dari 'Janji yang Dikhianati di Balai Kekaisaran', dengan sentuhan yang diminta: **Bisikan Hujan di Balai Kenangan** Hujan menggigil di atap Balai Kekaisaran. Sama dinginnya dengan tatapan yang kini dilemparkan Li Wei padaku. Dulu, di bawah *cahaya lentera* yang sama, matanya berbinar penuh cinta. Sekarang, hanya ada es yang menusuk. "Kaisar," sapaku, membungkuk kaku. Aroma dupa memenuhi udara, bercampur dengan bau tanah basah. Aroma yang dulu menenangkan, kini terasa menyesakkan. "Jenderal Zhang," jawabnya dingin. Tanpa embel-embel 'saudara', seperti dulu. Hanya ada jarak, jurang yang dalam, yang digali oleh *pengkhianatan*. *Bayangan* kami memanjang dan patah di lantai marmer. Dulu, bayangan itu menari bersama di bawah rembulan, saat kami masih remaja, bermimpi tentang dunia yang akan kami taklukkan bersama. Kini, hanya ada kehampaan. "Anda dipanggil untuk membahas masalah perbatasan utara," lanjutnya. Nada suaranya datar, tanpa emosi. Seolah aku hanyalah bidak catur dalam permainannya. Aku mengangguk, mendengarkan laporan tentang suku barbar yang semakin berani. Tapi pikiranku melayang. Kembali ke malam itu. Malam saat aku menemukan surat itu. Surat yang mengungkapkan persekongkolannya dengan musuh, demi merebut tahta. Malam saat *hatiku* hancur berkeping-keping. Aku memilih diam. Memilih mengasingkan diri di perbatasan. Memilih membiarkan dia berkuasa. Tapi bukan berarti aku lupa. Bukan berarti aku memaafkan. Lentera di sudut ruangan berkedip, *nyaris padam*. Seolah turut merasakan *penderitaan* yang selama ini kurasakan. "Ada yang ingin Anda sampaikan, Jenderal?" tanya Li Wei, memecah keheningan. Aku mengangkat kepala, menatap matanya lurus-lurus. "Hanya satu, Kaisar. Bahwa *balas dendam* terkadang terasa manis, terutama jika disajikan dengan dingin." Dia terkejut. Sedikit. Tapi cukup untuk menunjukkan bahwa dia belum sepenuhnya lupa. Belum sepenuhnya kebal terhadap rasa sakit yang dulu pernah kami bagi. Aku berbalik, melangkah keluar dari balai. Hujan semakin deras. Aku merasa lebih hidup dari sebelumnya. Saat aku tiba di gerbang istana, di antara tetesan air hujan yang membasahi wajahku, terlintas kembali penglihatan tentang malam pengkhianatan itu. *Malam itu, aku tidak sendirian menemukan surat itu; seseorang bersamaku, dan dia adalah orang yang paling kamu percaya...*.
You Might Also Like: Tutorial Sunscreen Mineral Dengan

Share on Facebook