Baiklah, inilah kisah dracin pendek yang kamu minta: **Kau Menatapku dengan Harapan, Tapi Aku Datang Sebagai Pembalasan** Kabut lembayung menyelimuti Kota Seribu Sutra, tempat Lin Yue lahir kembali. Bukan sebagai putri mahkota yang dimuliakan, melainkan sebagai anak pedagang kain yang sederhana. Mimpi-mimpi aneh menghantuinya setiap malam: *tembok istana* yang berlumuran darah, tawa serak seorang pria, dan tatapan memohon seorang wanita dengan jepit rambut phoenix di sanggulnya. Hidupnya tenang, meski terkadang dihantui *deja vu* yang menusuk. Hingga suatu hari, iring-iringan kereta kencana melintas di depan tokonya. Dari balik tabir sutra, seorang pria menatapnya. Pangeran Rui. Matanya. Mata itu membuatnya membeku. Pangeran Rui sering datang ke toko kainnya. Setiap kali, tatapannya dipenuhi... harapan. Seolah mencari sesuatu yang hilang. Lin Yue merasa aneh. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena cinta, melainkan karena sesuatu yang lebih gelap, lebih *menakutkan*. Semakin sering Pangeran Rui datang, semakin jelas ingatan masa lalunya. Dia, Lin Yue di kehidupan sebelumnya, dijebak dan dibunuh oleh orang yang paling dia percayai: kekasihnya sendiri, Pangeran Rui. Dia menginginkan tahta, dan Lin Yue, sang putri mahkota, adalah penghalangnya. Jepit rambut phoenix itu? Pemberiannya, sebelum dia menusuknya dari belakang. *PEMBALASAN*. Kata itu bergema di benaknya. Bukan dengan pedang atau racun. Balas dendamnya akan lebih halus, lebih menyakitkan. Pangeran Rui melamarnya. Di depan altar, dengan lilin merah menyala dan ribuan mata menyaksikan, Lin Yue tersenyum. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Saya bersedia," ucapnya, lalu menambahkan dengan suara pelan yang hanya bisa didengar Pangeran Rui, "tapi bukan untuk menjadi permaisurimu." Dia menerima pinangan itu, bukan sebagai Lin Yue yang mencintai, melainkan sebagai *Bayangan* dari masa lalu. Dia menikahinya, masuk ke dalam istananya, menyaksikan setiap rencananya, setiap ambisinya. Dia menjadi penasihatnya, mengarahkannya menuju keputusan-keputusan yang... *keliru*. Lin Yue menggunakan pengetahuannya tentang intrik istana, sisa-sisa kemampuannya dari kehidupan sebelumnya, untuk menjebak Pangeran Rui. Dia menjatuhkannya perlahan, satu per satu, hingga dia kehilangan segalanya: kekuasaan, reputasi, dan akhirnya, tahta. Ketika Pangeran Rui diasingkan ke perbatasan yang jauh, dia menatap Lin Yue dengan tatapan yang sama seperti di kehidupannya yang lalu, tatapan memohon. Tapi kali ini, tidak ada ampun di mata Lin Yue. Dia hanya berkata, "Kau menatapku dengan harapan, tapi aku datang sebagai pembalasan." Kota Seribu Sutra kembali tenang. Lin Yue, atau siapapun dia sekarang, menatap langit lembayung. Mimpinya kini hening. Pekerjaan selesai. Tapi… ada sesuatu yang terasa belum tuntas. Mungkin, di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu lagi… dan kali ini, *aku* yang akan menentukan permainan.
You Might Also Like: Hotel Hospitality Expo Exhibition

Share on Facebook