Tentu, ini dia kisah dracin intens berjudul 'Cinta yang Mati Dalam Senyummu': **Cinta yang Mati Dalam Senyummu** Malam itu, salju turun seperti belati perak yang menusuk jantung kota. Di Paviliun Bulan yang remang-remang, aroma dupa terbakar bagai doa yang putus asa, berbaur dengan bau anyir darah yang membasahi lantai pualam. Ling Wei, dengan gaun merah menyala yang kontras dengan pucat wajahnya, menatap Zhao Yi, pria yang pernah ia cintai, pria yang kini terikat di kursi dengan rantai besi berkarat. Senyumnya, dulu sehangat mentari pagi, kini hanya seulas garis tipis yang menyimpan jurang maut. "Kau tahu, Yi," bisik Ling Wei, suaranya serak tertahan, "cinta kita seperti anggur yang terlalu lama disimpan. Alih-alih memabukkan, ia justru berubah menjadi racun yang membunuh perlahan." Zhao Yi, dengan luka lebam di sekujur tubuh, hanya mendengus lemah. Matanya, dulu penuh semangat, kini redup bagai bara yang hampir padam. "Kau... kau tidak mengerti." "Tidak mengerti?" Ling Wei tertawa hambar. Ia mengambil sebilah pisau perak dari meja, cahaya bulan memantul tajam dari bilahnya. "Aku mengerti lebih dari yang kau kira, Yi. Aku mengerti bagaimana rasanya dikhianati. Aku mengerti bagaimana rasanya menyaksikan orang yang kau cintai menghancurkan hidupmu, perlahan, *SADIS*, dan penuh perhitungan." Flashback menghantamnya bagai ombak pasang. Malam itu, lima belas tahun lalu, di bawah pohon sakura yang mekar sempurna, Zhao Yi berjanji akan mencintainya selamanya. Janji itu terukir dalam hatinya, menjadi *SUMPAH SUCI*. Namun, janji itu pula yang kemudian diinjak-injak, dicampakkan, ketika Zhao Yi memilih menikahi putri jenderal demi kekuasaan. "Rahasia," Ling Wei melanjutkan, suaranya bergetar menahan amarah, "selalu punya cara untuk terungkap, bukan begitu? Rahasia tentang kematian ayahku, rahasia tentang pengkhianatanmu, rahasia tentang anak yang *KAU BUNUH!*" Air mata mengalir deras di pipinya, bagai sungai yang meluap setelah bendungannya jebol. Zhao Yi terdiam. Wajahnya memucat pasi, keringat dingin membasahi dahinya. Ia tahu, ini akhir dari segalanya. Ling Wei mendekatkan pisau perak itu ke leher Zhao Yi. "Aku bisa saja membunuhmu dengan cepat, Yi. Tapi itu terlalu mudah. Kau pantas merasakan sakit yang kurasakan selama ini. Sakit karena kehilangan, sakit karena pengkhianatan, sakit karena... cinta yang mati." Ia kemudian meletakkan pisau itu, dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan hitam pekat. "Racun. Racun yang sangat lambat, sangat menyakitkan. Kau akan merasakannya, Yi. Setiap detik, setiap hembusan napas, kau akan menyesali semua yang telah kau lakukan." Dengan tatapan sedingin es, Ling Wei menuangkan racun itu ke dalam cawan berisi arak beras. Ia menyeringai melihat Zhao Yi meronta putus asa. "Minumlah," bisiknya. "Ini adalah persembahan terakhirku untukmu. Persembahan dari hati yang terlalu lama menunggu... *balas dendam*." Zhao Yi, dengan mata penuh ketakutan, meneguk arak beracun itu hingga tandas. Ling Wei menyaksikan dengan tenang, senyum tipis bermain di bibirnya saat Zhao Yi mulai kejang-kejang dan akhirnya meregang nyawa. Di atas abu cinta yang telah terbakar habis, Ling Wei berdiri seorang diri, dengan hati yang kosong dan jiwa yang dingin. Balas dendam telah terbalaskan. Keadilan telah ditegakkan. Tapi, apakah kebahagiaan telah ia temukan? Saat ia berbalik, meninggalkan Paviliun Bulan yang berlumuran darah, ia berbisik lirih, "Dendamku telah selesai, tapi jiwaku... selamanya akan menjadi milikmu." Udara dingin malam itu membawa pergi bisikannya, meninggalkan kesunyian yang mencekam dan sebuah pertanyaan yang menggantung di udara: Akankah dia benar-benar bisa melupakan tatapan terakhir Zhao Yi, tatapan yang penuh penyesalan dan... *cinta terlarang*?
You Might Also Like: 0895403292432 Reseller Kosmetik Bisnis

Share on Facebook