Oke, siap. Mari kita mulai kisah absurd ini. **Langit yang Menyaksikan Dosa Kaisar** Senja di tahun 2347 berwarna abu-abu *glitch*. Bukan senja romantis seperti di e-book murahan, tapi senja distopia yang terasa seperti RAM laptopmu yang kehabisan memori. Di tengah kota yang hancur lebur, Elara, seorang *datascavenger* dengan rambut dicat neon dan jaket penuh tambalan, menatap langit. Bukan mencari bintang, tapi mencari sinyal. Sinyal untuk terhubung dengan… entah siapa. Seseorang di masa lalu, mungkin. "Halo? Apa ada di sana? Ini Elara, dari tahun 2347. Saya… saya menemukan pesanmu di *nodes* yang usang," bisiknya ke *comm device* bututnya. Yang ada hanya statis. Di tahun 1789, Kaisar Yao, di tengah kekacauan istananya yang berbau intrik dan dupa, melamun di balkon. Bukan memikirkan strategi perang, tapi sebuah melodi aneh yang terngiang di kepalanya. Melodi yang terasa… digital. "Apakah ada dewa yang mengirimkan *pesan*?" gumamnya, sambil menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Bintang yang baginya terasa seperti mata yang *MENGADILI*. Mereka terhubung melalui retakan waktu, melalui glitch dalam matriks. Elara dengan *chat* yang terputus-putus, Yao dengan mimpi yang terasa seperti *UNDUHAN* yang gagal. Cinta mereka tumbuh di celah-celah itu. Elara menceritakan tentang dunia yang dipenuhi *nanobots* dan hujan asam. Yao menggambarkan istana yang dipenuhi konspirasi dan kebohongan. Suatu malam, Elara menerima pesan yang jelas. *LUAR BIASA* jelasnya hingga membuatnya merinding. "Elara… aku melihat langit yang sama, tapi dalam dimensi yang berbeda. Dosa para kaisar… DOSA KITA… menciptakan loop ini. Kita terikat untuk saling mencari, terikat untuk *GAGAL*," ketik Yao, sebelum sinyalnya hilang lagi. Elara melacak pesan itu. Jejak digitalnya membawanya ke sebuah *vault* terlarang di reruntuhan museum kuno. Di sana, dia menemukan sebuah artefak: *KOTAK MUSIK* yang terbuat dari batu giok dan chip komputer. Kotak itu memainkan melodi yang sama dengan yang didengar Kaisar Yao. Saat Elara menyentuhnya, sebuah visi membanjirinya. Dia melihat dirinya dan Yao, dalam kehidupan yang tak terhitung jumlahnya, selalu bertemu di titik-titik kehancuran. Selalu mencintai, selalu *KEHILANGAN*. Mereka adalah gema dari sebuah cinta yang tak pernah selesai, terjebak dalam putaran tak berujung yang disebabkan oleh… sebuah kutukan. Kutukan yang tertulis dalam algoritma takdir. Saat visi itu memudar, Elara mendengar suara berderit dari *comm device*-nya. "Elara… jika kau mendengarku… matikan…"
You Might Also Like: 5 Rahasia Interpretasi Mimpi Menangkap

Share on Facebook