Oke, inilah kisah dracin tragis dengan judul 'Mahkota Itu Terjatuh Bersama Doa, Saat Aku Berhenti Menyebut Namamu Dalam Tidur': **Mahkota Itu Terjatuh Bersama Doa, Saat Aku Berhenti Menyebut Namamu Dalam Tidur** Daun-daun maple berguguran di Istana Terlarang, menari mengikuti irama angin musim gugur yang dingin. Di tengah taman rahasia yang dipenuhi aroma bunga plum, berdiri aku, Lian, dan dia, Zhi. Dua saudara sepupu, tumbuh bersama bagai akar yang saling melilit, berbagi mimpi dan rahasia di bawah langit yang sama. Atau setidaknya, itulah yang *ku* percaya. "Lian," bisiknya, suaranya selembut sutra namun matanya menyimpan badai. "Kau tahu, bukan? Mahkota itu bukan hanya simbol kekuasaan, tapi juga beban yang menghancurkan." Aku menatapnya, rahangku mengeras. "Kau yang menginginkannya, Zhi. Kau bersumpah akan merebutnya." "Apakah aku menginginkannya, atau *harus* menginginkannya?" jawabnya, senyum pahit tersungging di bibirnya. "Ada perbedaan yang **SANGAT** besar, Lian." Misteri menyelimuti hubungan kami, tersembunyi di balik senyum dan sapaan manis. Rahasia keluarga Kekaisaran, terukir dalam darah dan pengkhianatan, perlahan-lahan menggerogoti persaudaraan kami. Siapa sebenarnya yang dikorbankan? Siapa yang menjadi alat untuk mencapai tujuan akhir? Aku ingat malam itu, di usia kami yang masih belia, saat kami tak sengaja mendengar percakapan para tetua. Mereka membicarakan tentang silsilah kami, tentang garis keturunan yang dipertanyakan, tentang kutukan yang menimpa keluarga Kekaisaran. Sebuah nama disebut – nama ibuku. "Ibumu… bukanlah keturunan murni," kata Zhi suatu hari, tatapannya menusuk. "Dia membawa *aib* bagi keluarga kita." Kata-kata itu menghantamku bagai pedang. Selama ini, aku mengira kami berbagi darah yang sama, mimpi yang sama. Tapi ternyata, ada jurang pemisah yang dalam di antara kami, jurang yang digali oleh kebohongan dan ambisi. Ternyata, Zhi adalah pewaris yang sah, yang ditakdirkan untuk menduduki Tahta Naga. Sementara aku? Aku hanyalah bidak dalam permainannya, alat untuk melenyapkan rival-rivalnya, perisai dari segala bahaya. Pengkhianatan terasa seperti racun yang merambat perlahan, membakar jiwaku dari dalam. Malam demi malam, aku terjaga, mencoba menyusun kembali kepingan-kepingan kebenaran yang berserakan. *Waktu balas dendam tiba*. Di malam penobatan Zhi, aku berdiri di tengah kerumunan, menyembunyikan belati di balik jubah. Ketika dia mengangkat mahkota, ketika sorak-sorai membahana, aku melangkah maju. "Selamat atas kenaikanmu, Zhi," kataku, suaraku dingin seperti es. "Tapi ada satu hal yang harus kau tahu… darah yang mengalir dalam nadiku, adalah darah *yang lebih kuat* dari milikmu." Belati itu melesat, menebas udara dan menancap tepat di jantungnya. Zhi tersentak, matanya membulat karena terkejut dan pengkhianatan. Mahkota di tangannya terlepas, jatuh ke lantai dengan bunyi dentingan yang memilukan. "Kau…" bisiknya, darah mengalir dari mulutnya. "Aku," jawabku, air mata mengalir di pipiku. "Aku melakukan ini untuk kehormatan ibuku. Untuk keadilan. Untuk… *aku*." Saat dia ambruk ke lantai, di tengah genangan darahnya sendiri, aku mendekat dan berbisik, "Ternyata, kita berdua sama-sama dikorbankan… hanya saja, aku memilih takdirku sendiri." Di saat-saat terakhirku, aku mendengar bisikan angin, "Semoga arwahku tak akan tenang, sampai aku bisa merasakan hangatnya mentari pagi yang tak akan pernah kurasakan lagi..."
You Might Also Like: Unveiling Truth Do Wasps Produce Sweet

Share on Facebook