**Kaisar itu Menutup Mata, dan Dunia Pun Ikut Redup** Di istana berkabut *zamrud*, di mana waktu menari dalam elegi abadi, bersemayam Kaisar Zhāng. Bukan Kaisar yang gemilang dengan tahta emas dan panji perang, melainkan seorang pelukis jiwa, pengukir mimpi di atas kanvas langit. Setiap sapuan kuasnya adalah bisikan angin, setiap goresan adalah denyut jantung semesta. Kecintaannya, bagai *bunga teratai di tengah danau es*, adalah Putri Lín. Namun, Lín hanyalah bayangan rembulan di permukaan air, pantulan di cermin berdebu yang tak pernah disentuh. Ia ada dalam lukisan-lukisan Zhāng, dalam puisi-puisi yang terukir di pilar marmer, dalam melodi seruling bambu yang mengalun lirih di taman istana. Orang-orang istana berbisik: “Putri Lín adalah khayalan Kaisar. Sebuah *fantasi yang lahir dari kesepiannya*.” Namun, Zhāng tak peduli. Baginya, Lín nyata. Rambutnya sehalus sutra pagi, senyumnya sehangat mentari musim semi. Mereka berdansa di bawah *pohon sakura abadi* yang hanya ada di dalam lukisan, berbagi ciuman di bawah *hujan meteor yang membeku dalam waktu*. Suatu malam, ketika rembulan berlumuran darah di langit kelabu, Kaisar Zhāng menyelesaikan lukisan terakhirnya. Lukisan Lín yang sedang memetik bulan dari langit. Ia tersenyum, senyuman seorang pemenang yang menyadari kekalahannya. Ia menutup mata. *Dunia pun ikut redup*. Istana membisu. Istana membeku. Orang-orang istana berduka, bukan karena kematian Kaisar, melainkan karena kematian sebuah mimpi. Bertahun-tahun kemudian, seorang sejarawan muda menemukan sebuah ruangan tersembunyi di balik lukisan raksasa di aula utama. Di dalamnya, ia menemukan sebuah peti berukir naga. Di dalamnya, terbaring sehelai selendang sutra dengan aroma melati yang memudar. Di antara lipatan selendang, ia menemukan sebuah gulungan kecil. Ketika ia membukanya, ia tersentak. Itu adalah sketsa kasar seorang wanita, sangat mirip dengan Putri Lín yang ada di lukisan-lukisan Kaisar Zhāng. Di bawah sketsa itu, tertulis dengan tinta merah darah: ***"Aku hanyalah penjual bunga di pasar malam. Dia, Kaisar Zhāng, melihatku dan menjadikanku abadi."*** Misteri terpecahkan. Lín *BUKAN* ilusi. Ia nyata, seorang wanita biasa yang diabadikan oleh cinta Kaisar. Namun, kebenarannya justru lebih menyakitkan. Cinta Zhāng bagai *pisau bermata dua*: membangkitkan keabadian, namun juga memisahkan Lín dari kehidupannya yang sederhana. Ia hidup dalam lukisan, dalam mimpi, *selamanya terasing dari kenyataan*. ...Apakah kau mendengar bisikan angin malam ini?
You Might Also Like: Cerpen Keren Senyum Yang Tak Sempat

Share on Facebook