Dracin Populer: Kau Tersenyum Dalam Kabut, Tapi Aku Tahu Kau Bukan Lagi Manusia
Kau Tersenyum Dalam Kabut, Tapi Aku Tahu Kau Bukan Lagi Manusia
Aula Emas Istana Naga, berkilauan diterangi ribuan lilin, menyembunyikan bayangan panjang yang menari-nari di dinding. Di sanalah, Kaisar muda, Li Wei, duduk di singgasananya. Wajahnya, tampan namun menyimpan kelelahan yang mendalam, memindai barisan pejabat yang membungkuk hormat. Namun, matanya selalu mencari satu sosok: Bai Lianhua, Permaisurinya.
Bai Lianhua, bagai lukisan berjalan, anggun dalam balutan sutra merah delima. Senyumnya bagai kabut pagi yang menutupi puncak gunung – indah, namun menyembunyikan sesuatu. Li Wei mengingat hari-hari ketika senyum itu tulus, penuh cinta untuknya. Sekarang? Sekarang, senyum itu terasa asing, bahkan menakutkan.
"Permaisuri," sapa Li Wei, suaranya sedikit lebih keras dari bisikan, "Hari ini kau tampak berbeda."
Bai Lianhua mendekat, langkahnya ringan bagai hembusan angin. "Mungkin, Kaisar terlalu lelah. Kekhawatiran akan tahta memang membebani." Jari-jarinya menyentuh pipi Li Wei, sentuhan yang dulu selalu menenangkannya, kini membuatnya merinding.
Intrik di istana ini bagai labirin tanpa ujung. Setiap pejabat adalah pion dalam permainan takhta yang kejam. Bisikan pengkhianatan bagai desiran angin di balik tirai sutra yang tebal. Li Wei tahu, kekaisarannya terancam. Bukan hanya dari pemberontak di luar tembok istana, tetapi dari musuh yang bersembunyi di dalam. Dan dia curiga, Bai Lianhua adalah bagian dari ancaman itu.
"Aku percaya padamu, Lianhua," ucap Li Wei, menatap mata Permaisurinya dalam-dalam. "Katakan padaku, jika ada sesuatu yang kau sembunyikan."
Bai Lianhua tertawa pelan, nada yang membuat bulu kuduk Li Wei berdiri. "Kebohongan adalah bumbu dalam kehidupan istana, Kaisar. Apakah Anda benar-benar ingin menghilangkan semua rasa?"
Cinta mereka, yang dulu begitu kuat, kini menjadi alat kekuasaan. Setiap janji adalah pedang bermata dua. Li Wei mencintai Bai Lianhua, tapi dia juga seorang Kaisar yang harus melindungi kerajaannya. Bai Lianhua mencintai kekuasaan, dan dia bersedia melakukan apa saja untuk mendapatkannya.
Hari-hari berlalu dalam ketegangan yang mencekam. Li Wei berusaha mengungkap kebenaran, mencari bukti pengkhianatan Bai Lianhua. Namun, setiap langkah yang diambilnya, semakin dalam pula ia terjerat dalam jaring yang ditenun Permaisurinya.
Puncaknya terjadi di malam Festival Lentera. Aula Emas dipenuhi tawa dan musik, namun Li Wei tahu, sesuatu yang buruk akan terjadi. Tiba-tiba, lampu padam. Kegelapan menyelimuti aula. Jeritan panik memecah keheningan. Ketika lampu kembali menyala, Li Wei menemukan dirinya berlutut di depan singgasana, pedang menempel di lehernya.
Di belakangnya, berdiri Bai Lianhua. Matanya dingin, tanpa emosi. Di tangannya, tergenggam erat pedang berlumuran darah.
"Kau..." Li Wei berusaha berbicara, tenggorokannya tercekat.
Bai Lianhua tersenyum. Bukan senyum kabut pagi lagi, tapi senyum dingin yang membekukan darah. "Dulu, aku memang mencintaimu. Tapi kekuasaan jauh lebih manis. Dan sekarang, kekuasaan itu milikku."
Ia memberikan isyarat. Para pejabat istana, yang tadinya membungkuk pada Li Wei, kini berlutut di hadapan Bai Lianhua. Pengkhianatan yang sempurna. Li Wei menyadari, selama ini ia telah dibutakan oleh cintanya. Ia telah meremehkan ambisi Permaisurinya.
Bai Lianhua, yang selama ini dianggap lemah dan bergantung padanya, ternyata adalah dalang di balik semua intrik. Dia adalah serigala berbulu domba, yang telah memanfaatkannya untuk mencapai tujuannya.
"Selamat tinggal, Kaisar," bisik Bai Lianhua, sebelum pedangnya menebas leher Li Wei.
Saat kepalanya menggelinding di lantai Aula Emas, Li Wei melihat Bai Lianhua naik ke singgasana. Ia duduk dengan anggun, memandang para pejabat yang bersujud di hadapannya. Balas dendam dari pihak yang dianggap lemah – elegan, dingin, dan mematikan.
"Semuanya, mari kita sambut dinasti baru, dinasti Permaisuri Bai..."
Namun, di balik bayangan Aula Emas, seorang kasim tua, yang selama ini setia melayani Li Wei, menyembunyikan sebuah artefak kuno di balik jubahnya. Sebuah artefak yang memiliki kekuatan untuk memutar balik waktu, untuk menulis ulang sejarah.
Dan takdir Istana Naga, sekali lagi, berada di persimpangan...
You Might Also Like: 91 Digital Download 100 Printable