Tentu, ini dia kisah modern dracin berjudul 'Bayangan yang Menuntun ke Kematian' dalam gaya puitis: **Bayangan yang Menuntun ke Kematian** Hujan kota Jakarta tumpah ruah malam itu. Di balik jendela apartemen minimalis, Layla menggenggam cangkir kopi panas, aromanya berusaha mengalahkan dingin yang menusuk. Layar ponselnya menyala redup, menampilkan notifikasi yang tak henti berdatangan. Bukan notifikasi dari kekasihnya, Arka, melainkan dari grup obrolan kerja yang *berisik*. Arka… nama itu berbisik di benaknya seperti angin malam. Empat bulan lalu, ia menghilang tanpa jejak. Hilang bersama _mimpi-mimpi_ yang mereka rajut bersama, hilang bersama _kenangan_ manis di kedai kopi langganan, hilang bersama _janji-janji_ yang terukir di sisa _chat_ yang tak terkirim. Cinta mereka lahir di antara notifikasi dan emoji, tumbuh di antara _screenshoot_ lucu dan _voice note_ tengah malam. Dulu, Layla berpikir cinta mereka abadi, sekuat beton Jakarta yang menjulang. Kini, yang tersisa hanyalah _BAYANGAN_, bayangan Arka yang selalu hadir dalam setiap sudut apartemen, dalam setiap lagu yang terputar, dalam setiap aroma hujan yang menyapa. Ia membuka aplikasi *chat*, menatap lekat-lekat percakapan terakhir mereka. Arka mengiriminya _link_ sebuah artikel tentang konstelasi bintang. Di bawahnya, tertulis, "Lihat, Lay. Bintang-bintang pun punya takdirnya sendiri." Layla tersenyum pahit. Apakah takdir mereka adalah berpisah? Semakin hari, rasa kehilangan itu semakin *menggerogoti*. Ia mencoba mencari jejak Arka, bertanya pada teman-temannya, bahkan menyewa detektif swasta. Hasilnya nihil. Seolah Arka ditelan bumi. Suatu malam, Layla menerima sebuah _email_ anonim. Subjeknya hanya satu kata: *RAHASIA*. Di dalamnya, terdapat sebuah foto Arka sedang berbicara dengan seorang pria berpakaian serba hitam di sebuah gudang tua. Di belakang mereka, terlihat tumpukan kotak bertuliskan "EKSPOR ILEGAL". Jantung Layla berdegup kencang. Arka… terlibat dalam sesuatu yang berbahaya? Ia memutuskan untuk menyelidiki sendiri. Dengan berbekal intuisi dan keberanian, Layla mengikuti jejak yang ditinggalkan Arka. Jejak yang membawanya ke sebuah konspirasi besar, ke sebuah jaringan kriminal yang melibatkan orang-orang berpengaruh, dan akhirnya… ke kebenaran yang *MENGEJUTKAN*. Arka tidak menghilang. Ia dibunuh. Dibunuh karena mengetahui terlalu banyak tentang bisnis ilegal mereka. Kemarahan Layla memuncak. Ia bersumpah akan membalas dendam. Namun, ia tidak ingin membalas dengan kekerasan. Ia ingin membalas dengan *kelembutan*, dengan kecerdasan, dengan sesuatu yang lebih menyakitkan dari sekadar kematian. Layla mengumpulkan semua bukti yang ia temukan, lalu mengirimkannya ke media massa. Skandal itu meledak. Para pelaku ditangkap, bisnis mereka hancur. Di puncak menara tertinggi Jakarta, Layla berdiri menatap kota yang gemerlap. Ia mengirimkan sebuah pesan terakhir ke nomor Arka yang sudah tidak aktif. "Aku sudah membalasmu, Sayang. Kamu bisa tenang sekarang." Ia tersenyum tipis. Senyum yang mengandung kepuasan, kesedihan, dan juga… *KELEGAAN*. Layla memutuskan untuk memulai hidup baru, meninggalkan semua _kenangan_ tentang Arka. Ia menutup *aplikasi chat*, mematikan ponselnya, dan melangkah pergi. Namun, sebelum benar-benar menghilang, ia meninggalkan sebuah *pesan* di dinding apartemennya dengan cat merah: "***Tak ada yang benar-benar hilang. Hanya berpindah tempat… atau dimensi.***" Dan angin malam pun berbisik, membawa pergi semua *jawaban*… menyisakan ruang hampa yang *abadi*.
You Might Also Like: Interpretasi Mimpi Memelihara Lalat
Share on Facebook