Oke, siap! Mari kita buat drama absurd ala dracin dengan bumbu cinta, racun, dan patahan dimensi waktu. Siapkan tisu, siapa tahu butuh buat ketawa atau mewek! *** **Racun Itu Manis, Karena Dicampur dengan Cinta.** Layla menggenggam erat ponselnya, layarnya retak seperti hatinya. Sinyal hilang timbul, seperti harapan yang datang lalu pergi tanpa permisi. Di layar itu, sebuah chat menggantung dengan status *sedang mengetik…* selama tiga bulan. Tiga bulan sejak Awan, pria yang dicintainya, menghilang. Bukan menghilang biasa. Menghilang dari _dimensi_. Layla hidup di tahun 2045. Langit abu-abu permanen, hasil dari polusi yang kelewat batas. Pagi adalah mitos, mentari adalah legenda. Cinta? Mungkin hanya sekadar algoritma yang salah perhitungan. Tapi tidak bagi Layla. Dia percaya pada Awan, pada senyumnya yang bisa membuat kiamat pun menunda diri. Awan adalah anomali. Seorang kolektor barang antik digital. Dia terobsesi dengan masa lalu, terutama dengan… tahun 2023. Tahun di mana langit masih biru, kopi masih beraroma, dan cinta… masih sederhana. Ia sering bercerita tentang tahun itu, tentang hujan yang menari di atap rumah, tentang *emoji* hati yang belum terasa basi. Suatu malam, Awan menemukan sebuah *glitch* dalam jaringan data kuno. Sebuah portal, katanya. Kesempatan untuk merasakan 2023 secara langsung. Layla memohon agar ia tidak pergi. Firasatnya berteriak, tapi Awan terlalu terpikat oleh nostalgia. "Aku janji akan kembali, Layla. Aku akan membawakanmu matahari," bisiknya, sebelum menghilang dalam kilatan piksel. Layla setiap hari membuka aplikasi obrolan lawas itu, menunggu pesan dari Awan. Ia menatap status *sedang mengetik…* seolah mantra. Mungkin Awan sedang merangkai kata-kata yang lebih indah dari puisi. Atau mungkin… ia terjebak. Sementara itu, di tahun 2023, Awan (atau setidaknya, seseorang yang *sangat* mirip Awan) terbangun di taman kota. Bingung. Ponselnya mati. Pakaiannya aneh. Orang-orang menatapnya curiga. Ia menemukan sebuah kafe, memesan kopi, dan bertanya tahun berapa sekarang. "Dua ribu dua puluh tiga, Pak. Ada masalah?" jawab barista dengan tatapan menyelidik. Awan tersenyum pahit. Ia merasa seperti ikan yang tiba-tiba dilempar ke akuarium yang salah. Tapi ada satu hal yang membuatnya tenang: di saku jaketnya, ia menemukan sebuah *flash drive*. Di dalamnya, foto-foto Layla. Senyum Layla. Ia mulai mencari Layla. Mencari jejaknya di dunia yang terasa begitu asing. Tapi setiap kali ia bertanya tentang Layla, orang-orang hanya menggeleng. Nama itu tidak ada dalam catatan sipil. Tidak ada di media sosial. Bahkan mesin pencari pun bungkam. Ia mulai meragukan segalanya. Apakah Layla hanya *halusinasi* akibat radiasi portal waktu? Apakah cintanya hanya ilusi digital? Suatu malam, ia bermimpi. Mimpi yang aneh, *sangat* aneh. Ia melihat Layla menangis di bawah langit abu-abu. Ia mendengar suaranya memanggil namanya. Tapi suara itu… terdengar seperti gema. Gema dari masa lalu yang tak pernah benar-benar terjadi. Ia bangun dengan keringat dingin. Ia membuka *flash drive* itu lagi. Ia menatap foto Layla. Dan tiba-tiba, ia menyadari sesuatu. Di setiap foto, Layla selalu memegang sesuatu. Sebuah *alat musik*. Sebuah kecapi kuno. Ia mencari tahu tentang kecapi itu. Ternyata, kecapi itu adalah artefak langka. Dikatakan memiliki kekuatan untuk menghubungkan dimensi yang berbeda. Dikatakan mampu… merekam kenangan dari kehidupan yang belum pernah dijalani. **Dan di sanalah kebenaran itu terungkap:** Awan dan Layla bukanlah kekasih yang terpisah oleh waktu. Mereka adalah dua fragmen jiwa yang terperangkap dalam lingkaran *reinkarnasi*. Cinta mereka bukanlah cinta yang *dimulai*. Tapi cinta yang *diulang*. Setiap kehidupan, mereka bertemu. Setiap kehidupan, mereka terpisah. Setiap kehidupan, mereka berusaha untuk saling mengingat. Racun itu manis, karena dicampur dengan cinta yang _sudah basi_. Cinta yang terus-menerus *didaur ulang* oleh takdir yang kejam. Cinta yang hanya menjadi *gema* di antara dimensi yang berbeda. Layla di tahun 2045 menatap layar ponselnya yang redup. Status *sedang mengetik…* akhirnya berubah. **Awan:** Lupa... jangan... aku... *cinta*... Layar itu mati. Sinyal hilang. Dunia *benar-benar* padam. *Apa kau ingat...sebelum semuanya dimulai?*
You Might Also Like: Reveal Hidden Truths Unbiased Guide To
Share on Facebook