Baiklah, ini dia cerita pendek bergaya dracin, "Langit yang Terbelah Karena Nama yang Sama": **Langit yang Terbelah Karena Nama yang Sama** Alunan *guqin* di malam sunyi mengiris kalbu. Di paviliun bambu yang berayun pelan, Mei Lan duduk membisu. Wajahnya pucat, seputih rembulan yang mengintip malu di balik awan. Tiga tahun. Tiga tahun ia memendam segalanya. Pengkhianatan. Kebohongan. Dan… cinta yang *terbunuh*. Li Wei, suaminya, *dulu* adalah dunianya. Matahari yang menyinari paginya, rembulan yang menenangkannya di malam hari. Namun, dunia itu runtuh saat ia menemukan kalung giok di laci tersembunyi Li Wei. Sebuah kalung dengan ukiran *Lan*. Bukan Mei Lan, melainkan… Lan Xin, adik sepupunya yang telah lama menghilang. Mei Lan tidak berteriak. Tidak menangis meraung-raung. Ia hanya diam. Diam *membisu*. Bukan karena lemah, bukan. Ia menyimpan rahasia yang jauh lebih besar. Sebuah rahasia yang terikat dengan garis darah keluarga Li, sebuah rahasia yang bisa menghancurkan dinasti jika terungkap. Setiap malam, Mei Lan menyulam. Bukan sulaman bunga atau burung, melainkan simbol-simbol kuno yang rumit. Simbol yang hanya ia dan mendiang ibunya pahami. Simbol yang jika dirangkai, akan membuka peti besi tersembunyi di kuil leluhur keluarga Li. Peti yang berisi… surat wasiat Kaisar sebelumnya, yang menyebutkan *nama* pewaris tahta yang *sebenarnya*. Bukan Li Wei. Misteri semakin mengental. Siapa Lan Xin sebenarnya? Mengapa Li Wei menyembunyikan kalung itu? Dan mengapa Lan Xin menghilang tepat setelah Mei Lan dan Li Wei menikah? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala Mei Lan seperti angin puyuh. Ternyata, Lan Xin adalah *putri* dari Kaisar sebelumnya, hasil hubungan gelap dengan seorang selir. Li Wei, demi ambisi merebut tahta, telah merencanakan segalanya. Menyingkirkan Lan Xin, menikahi Mei Lan yang memiliki garis darah terhormat, dan menyembunyikan surat wasiat. Mei Lan tahu. Ia sudah tahu sejak lama. Ibunya, sebelum meninggal, telah memperingatkannya tentang kegelapan di hati Li Wei. Ibunya juga yang memberinya petunjuk tentang cara membalikkan takdir. *** Malam itu, Mei Lan menyelesaikan sulamannya. Ia mengenakan hanfu putihnya, memoles bibirnya dengan warna merah delima, dan berjalan dengan anggun menuju kuil leluhur. Li Wei menunggunya di sana, dengan mata penuh curiga. "Kau tahu?" tanya Li Wei, suaranya dingin. Mei Lan tersenyum pahit. "Ya. Aku tahu segalanya." Ia membuka peti besi. Angin malam berhembus kencang, membawa debu dan kenangan. Li Wei terkejut. Di dalam peti itu, bukan surat wasiat yang ia temukan, melainkan… sebuah *pedang* pusaka. Pedang yang hanya bisa ditarik oleh *keturunan* Kaisar yang sah. Mei Lan meraih pedang itu. Tangannya bergetar, tapi matanya penuh tekad. Pedang itu bersinar terang, memancarkan aura yang kuat. Li Wei mundur ketakutan. "Aku bukan Mei Lan yang kau kenal," bisik Mei Lan, suaranya bergetar. "Namaku… ***Mei Lan Xin.***" Rahasia itu terungkap. Ibunya, Mei Lan *sebenarnya*, telah menukar dirinya dengan Lan Xin saat bayi, demi melindunginya dari intrik istana. Ia adalah putri Kaisar yang sebenarnya. Takdir berbalik arah. Balas dendam terlaksana tanpa kekerasan. Li Wei, karena kesalahannya sendiri, telah menghancurkan dirinya sendiri. Li Wei kehilangan segalanya. Tahta. Cinta. Dan… kehormatannya. Ia diasingkan ke perbatasan, hidup dalam penyesalan abadi. Mei Lan, atau Lan Xin, naik tahta. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana. Tapi setiap malam, ia selalu duduk di paviliun bambu, mendengarkan alunan *guqin*. Kenangan tentang Li Wei, tentang pengkhianatan, tentang cinta yang hilang, selalu menghantuinya. Ia tahu, meskipun ia telah membalas dendam, ada sesuatu yang hilang… dan *tak* akan pernah kembali. Langit yang terbelah telah menyatu kembali, namun bekas lukanya… masih terasa ngilu.
You Might Also Like: 7 Fakta Interpretasi Mimpi Dipatuk Kuda
Share on Facebook