## Dendam yang Tumbuh dari Cinta yang Hancur Hujan kota Jakarta mengguyur jendela apartemennya, serupa dengan air mata yang tak pernah benar-benar kering di pipinya. Layar ponselnya memancarkan cahaya biru dingin, menerangi wajah **pucat** Ayla. Notifikasi dari grup kerja terus berdatangan, tapi matanya terpaku pada satu nama: *Arjuna*. Dulu, nama itu adalah senyum di pagi hari, secangkir kopi panas yang terasa hangat hingga ke jiwa, dan mimpi yang dianyam bersama di tengah bisingnya ibu kota. Sekarang, nama itu adalah duri yang menusuk setiap kali ia berusaha bernapas. Cinta mereka tumbuh di antara *emoji* dan *sticker* lucu, di antara obrolan larut malam tentang mimpi dan ketakutan, di antara janji-janji yang terasa abadi di bawah langit Jakarta yang kelabu. Ia ingat dengan jelas aroma parfum Arjuna, aroma kayu manis dan sedikit *amber* yang selalu membuatnya merasa aman dan dicintai. Kenangan itu kini terasa bagai pecahan kaca. Ayla menyentuh ikon *chat* Arjuna. Terakhir kali mereka berbicara adalah tiga bulan lalu. Deretan kata terakhir mereka masih terukir di layar ponselnya, sisa-sisa percakapan yang tiba-tiba terputus. Pesan-pesan yang tak terkirim, kalimat-kalimat yang menggantung di udara seperti kabut pagi, menumpuk di benaknya, menjelma menjadi pertanyaan-pertanyaan yang mencekik. Hilangnya Arjuna, tanpa penjelasan, tanpa sepatah kata pun, adalah misteri yang perlahan menggerogoti jiwanya. Orang bilang, waktu akan menyembuhkan semua luka. Tapi waktu bagi Ayla terasa seperti siksaan yang tak berkesudahan. Ia terus bertanya-tanya, apa yang salah? Apa yang terjadi? Kemudian, suatu malam, saat ia tanpa sengaja menemukan sebuah file tersembunyi di laptop Arjuna, rahasia itu terungkap. Sebuah nama lain. Sebuah wajah lain. Seorang wanita lain. Semua potongan puzzle yang hilang akhirnya menyatu, membentuk gambaran pengkhianatan yang begitu menyakitkan hingga rasanya ia tidak mampu bernapas. **AMARAH** membakar hatinya. Cinta yang dulu begitu suci kini ternodai oleh kebohongan dan dusta. Ia ingin berteriak, mencaci maki, menghancurkan semua yang mengingatkannya pada Arjuna. Tapi Ayla bukan tipe wanita yang berteriak. Ia bukan tipe wanita yang meledak-ledak. Ia merencanakan balas dendamnya dengan **hati-hati**, dengan *dingin*, dengan **terukur**. Bukan balas dendam yang berdarah-darah, bukan balas dendam yang merusak segalanya. Ia memilih balas dendam yang lembut, yang menyakitkan tanpa meninggalkan bekas. Malam itu, Ayla pergi ke tempat yang sering mereka kunjungi dulu, sebuah kedai kopi kecil di sudut kota. Ia memesan kopi kesukaan Arjuna, dengan sedikit *hazelnut*. Ia duduk di meja yang sama, menatap ke arah jalanan yang ramai. Di sana, ia bertemu dengan seorang pria. Seorang pria yang membuatnya tersenyum, bukan karena cinta, tapi karena *KEKUATAN*. Beberapa minggu kemudian, foto Ayla dan pria itu terpampang di majalah bisnis ternama. Ayla, CEO muda yang sukses, terlihat anggun dan bahagia. Di latar belakang, samar-samar, terlihat sebuah galeri seni, tempat Arjuna bekerja. Ia tahu, Arjuna akan melihatnya. Ia tahu, foto itu akan menyayat hatinya, lebih dalam dari yang bisa ia bayangkan. Ayla mengirimkan sebuah pesan terakhir ke nomor Arjuna. Bukan kata-kata amarah, bukan kata-kata tuduhan. Hanya satu foto: dirinya, tersenyum cerah, dengan pria itu di sampingnya. Pesan itu disertai sebuah kalimat singkat: "Terima kasih atas pelajarannya, Arjuna." Ayla meletakkan ponselnya. Ia berdiri, memandang ke arah kota yang mulai berkilauan dengan lampu-lampu malam. Ia tersenyum. Senyum yang dingin, senyum yang **mematikan**, senyum yang menutup sebuah babak dalam hidupnya. Dan kemudian, Ayla pergi. Ia melangkah maju, meninggalkan semua kenangan di belakangnya. Ia meninggalkan segalanya, tanpa sedikit pun penyesalan. *Karena terkadang, diam adalah balas dendam terindah…*
You Might Also Like: Drama Baru Bayangan Yang Menghilang Di

Share on Facebook