Hujan menggigil mencambuk atap Paviliun Lotus, setiap tetesnya menari bersama bayangan yang patah di dinding bambu. Li Wei, dengan punggung tegak dan pandangan kosong, menuangkan teh panas ke cangkir porselen. Aroma melati berpadu dengan bau tanah basah, mengingatkannya pada masa lalu yang seharusnya terkubur dalam-dalam. "Sudah lama sekali, Wei," suara itu pelan, nyaris tenggelam dalam deru hujan. Li Wei mendongak, menatap Lin Feng, pria yang dulu menjadi dunianya. Wajahnya kini dipenuhi kerutan halus dan bekas luka kecil, sisa-sisa pertempuran yang tak terhindarkan. Namun matanya, mata yang dulu memancarkan cinta yang membakar, kini hanya menyiratkan penyesalan. "Terlalu lama," jawab Li Wei datar. Cangkir porselen di tangannya bergetar halus. "Apa yang membawamu kemari, Lin Feng?" Lin Feng menghela napas. Cahaya lentera di dekat mereka berkedip lemah, seolah ikut merasakan beratnya percakapan ini. "Aku ingin meminta maaf." *Maaf*. Kata itu terasa pahit di lidah Li Wei. Maaf atas pengkhianatan bertahun-tahun lalu? Maaf atas semua air mata yang ia tumpahkan hingga membentuk bayangan iblis di hatinya? "Maaf tidak akan mengembalikan apa yang hilang," jawab Li Wei, suaranya dingin seperti es. "Kau mengambil segalanya dariku, Lin Feng. Keluarga, kehormatan... bahkan cintaku." Lin Feng menunduk. "Aku tahu. Aku pantas menerima kemarahanmu." Li Wei tertawa hambar. "Kemarahan? Itu terlalu sederhana. Aku tidak marah, Lin Feng. Aku... **mati rasa**." Malam itu, mereka menghabiskan berjam-jam dalam keheningan yang menyesakkan. Lin Feng mencoba menceritakan penyesalannya, menjelaskan tekanan yang ia alami saat itu, tetapi Li Wei hanya menatapnya dengan tatapan kosong yang semakin menghantuinya. Keesokan paginya, hujan berhenti. Matahari menerobos awan kelabu, menyinari Paviliun Lotus. Lin Feng menemukan Li Wei di taman, berdiri di dekat kolam ikan koi. "Aku akan pergi sekarang," kata Lin Feng. "Aku hanya ingin kau tahu... aku tidak pernah berhenti mencintaimu." Li Wei berbalik, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Benarkah? Mungkin kau akan terkejut mengetahui seberapa *dalam* cintaku padamu, Lin Feng. Sebuah cinta yang **membara**, cinta yang **menunggu**... dan cinta yang akan **menghancurkanmu**." Lin Feng tertegun. Ada sesuatu yang menakutkan di balik senyum itu, sebuah kegelapan yang lebih pekat dari malam tergelap. "Apa maksudmu?" tanyanya, suara bergetar. Li Wei mendekat, berbisik di telinganya. "Kau pikir semua ini kebetulan? Kedatanganmu? Penyesalanmu? Bahkan hujan semalam?" Lin Feng menatap Li Wei dengan ketakutan yang baru dikenalnya. Lalu, matanya tertuju pada ikan koi di kolam. Mereka berenang dengan tenang, terlihat damai... hingga ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Ikan-ikan itu, semua ikan koi itu, memiliki **mata yang sama** dengan anggota keluarga Lin Feng yang *hilang* bertahun-tahun lalu. "Danau yang kau cari... **ada di sini, Lin Feng.**"
You Might Also Like: 195 Rainha Dos Mares E Mais Musicas

Share on Facebook