Baiklah, ini dia kisah pendek bergaya dracin yang kamu minta: **Kau Menulis Pesan Terakhir, dan Aku Membaca Setiap Katanya Berulang** Hujan gerimis menari di jendela apartemen mewahnya, memantulkan siluet Ji-hyun yang berdiri mematung. Angin malam Seoul yang menusuk tulang tak lebih dingin dari tatapan matanya. Di tangannya, ponsel bergetar pelan, menampilkan notifikasi pesan terakhir dari Lee Jun-ho, pria yang dulu memenuhi dunianya dengan warna. "Maafkan aku, Ji-hyun. Aku tidak pantas untukmu." Kalimat itu sederhana, namun bagai belati yang menghunus jantungnya. Ji-hyun membaca pesan itu berulang-ulang, setiap kata terukir dalam memorinya seperti mantra yang memanggil hantu masa lalu. Senyum Jun-ho yang dulu terasa menenangkan, kini tampak *MENIPU*. Pelukannya yang hangat, kini terasa *BERACUN*. Janji-janjinya, dulu terdengar seperti melodi indah, kini berbalik menjadi *BELATI* yang mengiris hatinya. Dulu, Jun-ho adalah dunianya. Mereka bertemu di taman kampus, di bawah pohon sakura yang bermekaran. Cinta mereka tumbuh perlahan, seindah bunga-bunga musim semi. Ji-hyun, dengan segala kepolosan dan ketulusannya, memberikan seluruh hatinya. Namun, seperti musim yang berganti, hati Jun-ho pun berubah arah. Ia terpikat oleh pesona wanita lain, seorang pewaris konglomerat yang menjanjikan masa depan gemilang. Ji-hyun, seorang wanita yang dikenal anggun dan elegan, tidak menangis. Air mata tak pantas membasahi pipinya. Ia menyembunyikan luka itu di balik senyum tipis dan tatapan mata yang dingin. Ia belajar menari di bawah badai, berdiri tegak di atas reruntuhan hatinya. Beberapa bulan kemudian, Jun-ho muncul kembali. Ia menyesal, memohon ampunan. Ia mengaku telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya, meninggalkan Ji-hyun demi kekayaan yang hampa. Ji-hyun mendengarkan setiap kata penyesalannya dengan tenang, seolah ia sedang menonton sebuah drama murahan. "Aku mencintaimu, Ji-hyun. Aku ingin kita kembali seperti dulu," Jun-ho berlutut di hadapannya, air mata mengalir di pipinya. Ji-hyun tersenyum, senyum yang dingin dan mematikan. "Dulu?" ia bertanya dengan suara pelan. "Dulu itu sudah lama sekali, Jun-ho. Aku sudah bukan Ji-hyun yang dulu kau kenal." Ji-hyun tidak memaafkan. Ia tidak berteriak, tidak menuntut balas. Ia hanya *MEMBIARKAN* Jun-ho merasakan penyesalan itu, membiarkannya menghantuinya seumur hidup. Ia tahu, siksaan batin lebih menyakitkan daripada luka fisik. Beberapa tahun kemudian, Jun-ho hidup dalam kesunyian, dihantui oleh bayangan Ji-hyun yang selalu tersenyum dingin. Ia kehilangan segalanya: kekayaan, status, dan yang terpenting, cinta Ji-hyun. Sementara itu, Ji-hyun terus melangkah maju, menjadi wanita yang lebih kuat dan mandiri. Ia membangun kariernya, mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang menyayanginya. Di suatu malam yang sunyi, Ji-hyun kembali membaca pesan terakhir Jun-ho. Ia tersenyum pahit. Balas dendamnya sudah terlaksana, terasa manis sekaligus getir. Ia tahu, Jun-ho akan terus merasakannya, selamanya. Cinta dan dendam, bukankah mereka lahir dari tempat yang… *SAMA*?
You Might Also Like: Jualan Skincare Jualan Online Mudah

Share on Facebook