**Kau Mengangkat Pedang Padaku, Tapi Mata Kita Saling Memaafkan Sebelum Darah Jatuh** Angin malam mengoyak jubah sutra yang kupakai. Di bawah rembulan sabit yang pucat, sosoknya berdiri, pedang di tangan. Cahaya perak itu menari-nari di bilah baja, mengiris udara yang tiba-tiba terasa berat, *sesak*. Dulu, di bawah langit yang sama, tangan itu menggenggam tanganku, menjanjikan selamanya. Dulu, mata itu memancarkan cinta, bukan bara dendam yang membakar. "Li Wei," bisikku, suaraku serak tertelan angin. Nama itu terasa seperti kutukan di bibirku. Nama yang dulu kurangkai dalam setiap doa, kini menjadi cermin pengkhianatan. Ia tidak menjawab. Hanya kilatan dingin dari mata elangnya yang membuatku mengerti. Aku tahu. Aku tahu, *sungguh*, bahwa tak ada lagi Li Wei yang kukenal. Yang berdiri di hadapanku adalah **bayangan** dari janji yang dilanggar, dari mimpi yang hancur berkeping-keping. Pedang itu terangkat tinggi. Detik-detik berlalu terasa seperti abad. Aku memejamkan mata, menunggu sakit yang tak terhindarkan. Tapi yang kurasakan hanyalah hembusan angin yang lebih dingin dari biasanya, dan desiran *perasaan* yang tak asing, perasaan yang dulu selalu kurindukan. Aku membuka mata. Pedang itu berhenti beberapa inci dari leherku. Li Wei gemetar. Aku bisa melihatnya. Luka yang sama menganga di matanya, luka yang sama yang merobek hatiku. Di antara kilatan baja dan rembulan yang redup, mata kami bertemu. Di dalam tatapan itu, aku melihat permohonan maaf yang tak terucapkan, penyesalan yang mendalam, dan cinta yang masih *membara*, meski tertutup abu dendam. Sesaat, waktu berhenti. Aku melihat kembali semua kenangan indah kami. Tawa di bawah pohon persik yang sedang bermekaran, janji setia di tepi danau yang berkilauan, dan sentuhan lembut yang kini terasa seperti mimpi. Ia menurunkan pedangnya. Bukan karena kasihan. Bukan karena belas kasih. Melainkan karena di kedalaman mataku, ia melihat bayangannya sendiri, korban yang sama dari intrik dan pengkhianatan. “Pergilah,” gumamnya, suaranya parau. "Jangan pernah kembali." Aku tidak membantah. Aku berbalik, melangkah menjauhi masa lalu yang membayangi. Setiap langkah terasa berat, diisi oleh penyesalan dan kehilangan. Aku tahu, ia akan menyesali keputusannya. Aku tahu, ia akan dihantui oleh tatapan mataku selamanya. Namun, aku juga tahu bahwa ini belum berakhir. Karma selalu menemukan jalannya. Kekuatan yang lebih besar dari diriku, lebih besar dari kami berdua, akan menuntut keadilan. Bukan dengan darah, bukan dengan kekerasan, tetapi dengan cara yang lebih halus, lebih menyakitkan, dan lebih abadi. Takdir akan memastikan bahwa ia akan merasakan kehilangan yang sama. Kehilangan yang akan membekas di jiwanya, sama seperti lukanya membekas di hatiku. *Dia memaafkanku hari ini, tapi takdir tidak akan pernah melupakannya.*
You Might Also Like: 7 Fakta Mimpi Menemukan Ikan Nila Simak

Share on Facebook