**Dendam yang Tumbuh dari Cinta yang Hancur** Hujan gerimis membasahi paviliun Danau Bulan, seolah ikut menangisi nasib Li Wei. Lima tahun. Lima tahun ia habiskan untuk mencintai Zhang Feng, memberikan segalanya, bahkan impiannya menjadi tabib kekaisaran. Sekarang, pria itu berdiri di hadapannya, mengenakan jubah pengantin merah menyala, senyum palsu terukir di bibirnya. Di sisinya, berdiri putri mahkota yang angkuh, memancarkan aura kemenangan. "Wei," bisik Zhang Feng, suaranya nyaris tak terdengar di tengah gemericik hujan. "Maafkan aku." Li Wei hanya menatapnya dengan mata kosong. Tak ada air mata, tak ada amarah yang meledak. Hanya kekosongan yang menggema seperti *Guqin* yang dipetik di malam sepi. Ia tahu, ia dikhianati. Bukan hanya cintanya, tapi juga kepercayaan yang ia berikan sepenuh hati. Ia memilih diam. Bukan karena lemah. Bukan karena ia tak punya kekuatan untuk melawan. Tapi karena ia menyimpan rahasia. Rahasia yang akan menghancurkan Zhang Feng, lebih dari sekadar kemarahannya saat ini. Rahasia tentang gelang giok naga kembar yang kini melingkar di pergelangan tangannya. Gelang yang seharusnya menjadi milik pewaris sah takhta kekaisaran. Dulu, malam itu, saat Istana Timur terbakar, Li Wei menemukan seorang bayi laki-laki, tergeletak di antara reruntuhan, memeluk erat gelang itu. Ia tahu, jika bayi itu ditemukan, nyawanya tak akan selamat. Ia membawanya pergi, menyembunyikannya di desa terpencil, membesarkannya seperti adiknya sendiri. Ia rela melepaskan impiannya, melindungi sang pewaris sejati. Dan kini, Zhang Feng menikahi putri mahkota, *MEMBUKA JALAN* untuk perebutan takhta yang berlumuran darah. Lima tahun berlalu. Li Wei, dengan identitas barunya sebagai penasihat utama sang putri, melihat Zhang Feng meraih kekuasaan. Ia melihatnya membunuh, berbohong, mengkhianati, semua atas nama ambisi. Setiap malam, ia mendengar *Guqin* membelah kesunyian kamarnya, melodi kesedihan yang perlahan berubah menjadi melodi keteguhan. Misteri kecil mulai bermunculan. Surat-surat rahasia yang menghilang, racun yang diganti dengan ramuan penyembuh, pergerakan pasukan yang dialihkan. Zhang Feng semakin curiga, ia merasa ada yang mengawasinya, mengendalikan setiap langkahnya. Suatu malam, Zhang Feng menemukannya di paviliun Danau Bulan, menatap pantulan bulan di air. Di tangannya, tergenggam gelang giok naga kembar. "Kau!" desis Zhang Feng, matanya menyala marah. "Kau yang selama ini...!" Li Wei tersenyum tipis. "Takdir memang seringkali lucu, bukan? Kau merebut cintaku, kekuasaanku... tapi kau lupa satu hal. Kau tak bisa merebut kebenaran." Ia mengangkat gelang itu tinggi-tinggi. "Bayi laki-laki yang kau kira mati terbakar lima belas tahun lalu... masih hidup. Dan ia adalah ahli waris yang sah." Zhang Feng terhuyung mundur, wajahnya pucat pasi. Semua ambisinya, semua kekuasaannya, *SEKALI LAGI*, hancur berkeping-keping di hadapannya. Li Wei berbalik, meninggalkan Zhang Feng yang terpaku di bawah hujan gerimis. Ia tahu, saat matahari terbit esok hari, kebenaran akan terungkap. Tak ada kekerasan, tak ada pertumpahan darah. Hanya takdir yang berbalik arah, dengan pahit namun indah. Keadilan telah ditegakkan. Balas dendam telah terbayar. Tapi, akankah sang ahli waris sejati mengerti mengapa ia harus menunggu begitu lama? Dan Li Wei tahu, ia masih memiliki satu rahasia lagi yang harus ia simpan, rahasia yang akan ia bawa sampai akhir hayatnya…
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Mimpi Dipatuk Burung

Share on Facebook