Oke, ini dia kisah Dracin pendek yang kamu minta: **Kau Pergi dalam Cahaya, dan Aku Tinggal dalam Bayanganmu** Kabut dupa melayang di Paviliun Anggrek, aroma cendana bercampur dengan aroma teh pahit. Mei Lan, dengan gaun sutra berwarna *peach*, menatap danau berkabut. Airnya tenang, menyembunyikan rahasia yang lebih tua dari gunung di kejauhan. Dia, seorang pelukis biasa di era modern, sering merasa ada sesuatu yang hilang, sepotong memori yang terus menerorinya dalam mimpi. Mimpi tentang istana megah, intrik, dan pengkhianatan. "Nona Mei Lan, lukisan ini sudah selesai," kata pelayannya, Lian. Mei Lan menoleh. Lukisan itu menggambarkan seorang wanita berpakaian *phoenix*, membelakanginya. Aura wanita itu begitu kuat, begitu FAMILIAR. "Siapa dia?" tanya Mei Lan, suaranya bergetar. "Lukisan pesanan. Seorang klien misterius hanya memberikan sketsa ini," jawab Lian, ragu. Sejak lukisan itu datang, mimpi Mei Lan semakin intens. Dia melihat wajah-wajah samar, mendengar bisikan di lorong-lorong sunyi. Kemudian, nama itu muncul: *Pangeran Rui*. Pengkhianat. Dia mulai mencari tahu tentang Pangeran Rui. Google, perpustakaan, museum – semua dia jelajahi. Akhirnya, dia menemukan sebuah catatan sejarah tentang seorang permaisuri bernama Hua, yang dihukum mati karena pengkhianatan. Tuduhan palsu. Otak Mei Lan serasa meledak. Dia *INGAT*. Dia adalah Hua. Pangeran Rui, kekasihnya, sahabatnya, telah menjebaknya. Ingatan itu datang bagai air bah. Ciuman terakhir. Janji setia. Tikaman di punggung. Tapi... mengapa? Mengapa Rui mengkhianatinya? Suatu malam, Mei Lan bermimpi. Dia melihat dirinya dan Rui di taman bunga sakura. Rui berlutut, memohon ampun. Dia terdesak, harus memilih antara Hua dan tahta. Kekuasaan membutakannya. Mei Lan bangun dengan air mata berlinang. Dendam? Tentu saja. Tapi... dia tidak akan membunuh Rui. Dia akan melakukan sesuatu yang jauh lebih *menyakitkan*. Dia menemukan identitas klien misterius yang memesan lukisan itu. Ternyata, itu adalah keturunan Pangeran Rui. Seorang pengusaha kaya raya yang berniat membangun replika Istana Kekaisaran sebagai tempat wisata. Mei Lan, dengan pengetahuannya tentang sejarah, menyusun sebuah rencana. Dia mendekati pengusaha itu, menawarkan jasanya sebagai konsultan sejarah. Dia memastikan setiap detail replika istana itu *sempurna*. Dia menanamkan cerita tentang Hua, tentang kesetiaannya, tentang pengkhianatannya, ke dalam setiap sudut istana. Istana itu selesai dibangun. Ramai dikunjungi orang. Kisah Hua menjadi legenda, mengalahkan ingatan tentang kehebatan Pangeran Rui. Keturunan Rui, terikat pada nama dan warisan keluarganya, hidup dalam bayang-bayang *pengkhianatan kakeknya*. Mei Lan tersenyum tipis. Balas dendamnya telah selesai. Dia telah menghapus nama Rui dari sejarah, menggantinya dengan bayangan abadi. Sambil memandang Istana Kekaisaran replika yang berkilauan di kejauhan, Mei Lan berbisik, "Mungkin, di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu lagi... sebagai orang asing."
You Might Also Like: 7 Fakta Mimpi Dicakar Gurita Simak

Share on Facebook