Baiklah, inilah kisah modern *dracin* yang kamu minta: **Kau Berkata Akan Kembali, Tapi Perang Lebih Cepat Menjemputmu** Hujan kota Jakarta selalu membawa aroma kopi yang pahit dan sisa chat yang tak terkirim. Dulu, jariku lincah menari di atas layar ponsel, mengirimkan emoji hati dan lelucon receh padamu, ***ALEX***. Kita bertemu di dunia notifikasi – aplikasi kencan yang menjanjikan cinta secepat kilat. Tapi, cinta kita, seperti kopi yang enak, butuh waktu untuk meresap. Kau, dengan senyum miringmu yang selalu membuatku salah tingkah, dan aku, dengan mimpi-mimpi besar yang kubagikan hanya padamu. Kita membangun istana pasir di pantai *virtual*, saling berjanji untuk bertemu di dunia nyata. Kau berkata akan kembali dari penugasanmu, menjadi arsitek di sebuah proyek pembangunan infrastruktur di daerah konflik. Kau berjanji. Janji… kata itu kini terasa seperti debu yang beterbangan di antara sisa-sisa harapan. Setiap pagi, aku memeriksa ponselku. Nol notifikasi darimu. Nol panggilan tak terjawab. Hanya berita tentang perang yang semakin berkecamuk, tentang kota-kota yang hancur, dan nama-nama yang hilang. Namamu tidak ada di sana. Tapi, diam-diam, aku merasa ***KEHILANGAN*** itu merayap, mencengkeram hatiku seperti akar pohon tua. Aku mencoba menghubungimu. Pesan WhatsAppku hanya menampilkan centang satu. Kau menghilang. Aku bertanya pada teman-temanmu, mereka menggeleng. “Alex sibuk,” kata mereka. “Sinyal susah,” tambah yang lain. Tapi, instingku berteriak. Ada sesuatu yang disembunyikan. Kemudian, aku menemukan foto itu. Sebuah foto buram di media sosial. Seorang pria dengan seragam militer, membelakangiku. Posturnya mirip denganmu. Di captionnya tertulis, “Pahlawan tanpa nama.” *Tidak mungkin.* Aku mulai menggali. Rahasia itu terkuak perlahan. Kau tidak pernah menjadi arsitek. Kau seorang *kontraktor* – bukan membangun, tapi berperang. Janjimu adalah kebohongan yang indah. Cinta kita adalah ilusi yang dibangun di atas pasir. **Mengapa?** Kebencian dan cinta bercampur menjadi satu adonan pahit. Aku marah. Aku hancur. Tapi, aku juga mengerti. Kau melindungiku. Kau melindungi mimpiku. Balas dendamku *lembut*. Aku menghapus semua fotomu dari ponselku. Aku berhenti memikirkanmu. Aku melanjutkan hidupku. Aku menemukan cinta yang nyata, cinta yang berakar di bumi, bukan di dunia maya. Bertahun-tahun kemudian, aku menerima sebuah surat. Surat itu tanpa nama, tanpa alamat pengirim. Di dalamnya hanya ada satu kalimat: “Maafkan aku.” Aku tersenyum. Aku tahu itu darimu. Aku membakar surat itu di perapian, menyaksikan apinya melahap kertas itu menjadi abu. Kemudian, aku berbisik pada angin malam: “Aku memaafkanmu, Alex. Tapi, ***aku tidak akan pernah melupakanmu***.” Aku menutup mata. Kini, aku merasa hampa, namun *lega*. ***Aku memilih dia.***
You Might Also Like: Dells Stock Split History Investors

Share on Facebook