**Janji yang Kubayar dengan Pengkhianatan** Kabut pagi di Danau Bulan Sabit melukiskan wajahmu, *Yue'er*, selembut sutra yang ditenun dewi. Ingatkah kau, di bawah sakura yang bermekaran, kita berjanji untuk mengarungi samudra waktu, bergandengan tangan, abadi? Bibirmu semerah delima, menyiratkan rahasia yang kini menghantuiku dalam mimpi-mimpi *buruk*. Waktu, seperti sungai yang tak pernah berhenti mengalir, membawaku ke istana megah, dihiasi ukiran naga dan phoenix yang saling bertautan. Di sanalah, di antara lilin-lilin beraroma cendana dan musik kecapi yang mendayu, aku melihatmu. Bukan Yue'er-ku yang polos dan riang, tapi Putri Mahkota yang anggun dan **dingin**. Kau tersenyum padaku, senyum yang asing, senyum yang menyembunyikan ribuan badai di balik ketenangannya. "Siapa kau?" tanyamu, suaramu bagai desiran angin yang tak membawa aroma familiar. Hatiku hancur berkeping-keping, seperti porselen termahal yang dijatuhkan dari ketinggian. Setiap malam aku mencarimu di taman istana, di bawah rembulan yang pucat. Aku melihatmu melukis, kanvasmu dipenuhi bunga sakura yang layu, seperti hatiku. Dalam lukisan itu, tersembunyi sebuah prasasti kecil, ditulis dalam aksara kuno yang hanya kita berdua yang memahaminya: *“Janji di bawah sakura, terikat selamanya.”* Aku mendekatimu, menyentuh pundakmu. Kau menoleh, matamu berkaca-kaca. "Kau... kau adalah bayangan dari masa lalu," bisikmu, suaramu bergetar. "Masa lalu yang harus kulupakan." Bertahun-tahun berlalu, aku hidup dalam *kehampaan*. Aku menjadi seorang jenderal yang ditakuti, membela kerajaan yang merebutmu dariku. Aku menaklukkan tanah-tanah asing, membangun piramida dari tengkorak musuh, berharap bisa melupakan rasa sakit ini. Tapi, bayanganmu selalu menghantuiku, di setiap medan perang, di setiap istirahat yang singkat. Suatu malam, saat badai mengamuk di luar istana, aku dipanggil menghadap Raja. Di sana, di atas takhta berlapis emas, duduk Putri Mahkota, *YUE'ER*. Dia memegang sebuah gulungan kuno di tangannya, matanya terpaku padaku. "Jenderal," katanya, suaranya bergetar, "Gulungan ini... ditemukan di reruntuhan kuil kuno. Isinya... kisah cinta tragis, antara seorang gadis desa dan seorang pangeran yang hilang ingatan." Dia menatapku, air mata mengalir di pipinya. "Pangeran itu... adalah kau. Dan gadis desa itu... adalah AKU!" ***Semua ingatan kembali***, seperti air bah yang menghancurkan bendungan. Aku ingat semuanya: pertemuan pertama di bawah sakura, janji abadi di tepi danau, dan **PENGKHIANATAN** Raja yang mencuci otakku, mengubahku menjadi alat perangnya. Aku melangkah mendekatinya, ingin memeluknya, mengatakan maaf. Tapi, sebelum aku bisa menyentuhnya, sebuah belati perak menancap di dadanya. Raja, dengan seringai mengerikan, berdiri di belakangnya. "Cinta adalah kelemahan," desisnya. "Dan kelemahan harus dimusnahkan." Yue'er jatuh ke pelukanku, darah membasahi jubahku. Dia menatapku dengan mata penuh cinta dan penyesalan. "Maafkan aku," bisiknya. "Aku... tidak punya pilihan." Sebelum dia menghembuskan nafas terakhir, dia memberikan gulungan itu padaku. Di dalamnya, tertulis sebuah kalimat yang mengguncang jiwaku: *“Aku tidak pernah melupakanmu, meski kau melupakanku.”* Kutemukan kebenaran, namun keindahannya terasa seperti ribuan jarum yang menusuk hatiku. Aku berdiri di sana, memeluk jasad Yue'er, di tengah badai yang mengamuk. Dan di tengah gemuruh petir, kudengar bisikan dari masa lalu: *“Akankah kita bertemu lagi, di kehidupan yang lain?”*
You Might Also Like: Perbedaan Skincare Lokal Dengan Sodium

Share on Facebook