Tentu, ini dia kisah dracin intens berjudul 'Bayangan Itu Mengikuti Hingga Hari Penobatan, Menertawakan Janji Yang Tak Pernah Ditepati': *** Malam mencengkeram Kota Terlarang dengan kuku-kuku dinginnya. Angin berdesir melalui lentera-lentera yang bergantungan, menggumamkan rahasia yang lebih tua dari dinasti itu sendiri. Salju turun tanpa ampun, menutupi segalanya dengan lapisan putih yang menyilaukan. Di atas hamparan itu, noda **DARAH**, merah pekat, bagai bunga mawar iblis yang mekar di keperawanan musim dingin. Pangeran Zhan, dengan punggung tegak namun mata yang berhantu, berdiri di pelataran Kuil Leluhur. Asap dupa mengepul di sekelilingnya, menyengat hidung dan mencekik ingatan. Es mencair di pipinya, bukan salju, namun air mata yang terlalu lama dipendam. Hari ini seharusnya menjadi hari penobatannya. Hari dia menerima Mandat Langit dan menjadi Kaisar. Namun, di balik gemerlap jubah naga, bayangan masa lalu mengintai. "Kau pikir bisa lari, Zhan?" Suara itu, serak dan dipenuhi racun, membelah kesunyian. Xiao Xingchen, sosok yang seharusnya sudah mati bertahun-tahun lalu, muncul dari balik pilar. Wajahnya, dulu secerah rembulan, kini dipenuhi bekas luka dan kebencian. Di tangannya, tergenggam erat pedang yang berkilauan mematikan. "Xingchen... kau masih hidup?" Zhan berbisik, suara tercekat di tenggorokannya. "HIDUP? Aku hidup di neraka yang kau ciptakan, Zhan! Neraka yang terbuat dari **JANJI** yang kau ucapkan di atas abu orang-orang yang kau khianati!" Xingchen meraung, suaranya bergema di seluruh kuil. Kilasan ingatan menghantam Zhan bagai gelombang pasang. Malam itu, sepuluh tahun lalu, di tengah kobaran api yang melahap desa Xingchen, mereka berdua bersumpah untuk saling melindungi. Zhan, seorang pangeran yang menyamar, berjanji akan kembali dan membalaskan dendam. Namun, kekuasaan telah mengubahnya. Janji itu terlupakan, tergerus ambisi dan intrik istana. "Aku... aku punya alasan, Xingchen." "Alasan? Apakah 'alasan'mu bisa mengembalikan nyawa orang tuaku? Apakah 'alasan'mu bisa menghapus air mata darah yang kupeluk setiap malam?" Xingchen maju selangkah, pedangnya terangkat. "Hari ini, Zhan, kau akan membayar semua dosa-dosamu!" Pertarungan pun pecah. Pedang beradu, menciptakan percikan api di tengah malam yang kelam. Keduanya menari dalam lingkaran kematian, cinta dan kebencian berpilin dalam setiap ayunan. Zhan, seorang ahli pedang yang terlatih sejak kecil, melawan dengan sekuat tenaga. Namun, hati nuraninya terlalu berat. Rasa bersalah menghantuinya, melumpuhkan kekuatannya. Akhirnya, pedang Xingchen menembus jantung Zhan. Pangeran itu jatuh berlutut, darah menyembur dari mulutnya. "Aku... aku pantas mendapatkannya," gumam Zhan, matanya menatap Xingchen dengan penyesalan yang mendalam. Xingchen menatap jasad Zhan dengan wajah tanpa ekspresi. Ia telah membalas dendam. Namun, di dalam hatinya, tidak ada kelegaan. Hanya kehampaan yang lebih dalam dari jurang maut. Ia mencabut pedangnya, membiarkan tubuh Zhan tergeletak di atas salju yang semakin merah. Sebelum pergi, Xingchen berbisik di telinga mayat Zhan, kata-kata yang lebih dingin dari es: "Penobatanmu... telah dibatalkan." Ia menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan Kota Terlarang yang berlumuran dosa dan penyesalan. Beberapa hari kemudian, istana gempar. Penobatan dibatalkan. Kaisar yang baru tak pernah ditemukan. Yang tersisa hanyalah desas-desus tentang bayangan yang menghantui Kota Terlarang, menertawakan janji yang tak pernah ditepati. Dan di suatu malam yang sunyi, di sebuah gubuk terpencil di puncak gunung, Xingchen duduk seorang diri, menatap bulan purnama. Ia meminum racun perlahan, merasakan perihnya kematian menjalar di sekujur tubuhnya. *Balas dendam memang manis... tapi kehampaan yang ditinggalkannya... tak terperi.* Dan saat napas terakhirnya terhembus, ia mendengar bisikan, bukan dari dunia ini: "Giliranku untuk menagih janji..."
You Might Also Like: Skincare Alami Untuk Kulit Sensitif

Share on Facebook