Baiklah, ini dia kisah pendek bergaya dracin berjudul "Tangisan yang Mengalir Tanpa Sesal": **Tangisan yang Mengalir Tanpa Sesal** Rinai hujan menyelimuti Kota Terlarang, seolah ikut merasakan kesedihan Putri Lianhua. Di balik tirai sutra istananya, ia berdiri anggun, bak lukisan abadi. Gaun *cheongsam* biru safirnya memeluk tubuh rampingnya, memancarkan aura ketenangan yang menipu. Lima tahun. Lima tahun ia mencintai Kaisar Chen, menyerahkan seluruh hatinya pada senyumnya yang memabukkan. Senyum yang kini, hanya tersungging hambar di wajahnya saat ia melihat Kaisar menggendong Selir Mei, wanita yang baru saja memasuki istana bulan lalu. Cinta Lianhua adalah sungai yang mengalir deras, tulus dan tanpa pamrih. Ia memberikan segalanya, *segalanya*, dan sebagai balasan… pengkhianatan. Ia ingat, pelukan Kaisar dulu terasa hangat dan melindungi. Kini, pelukan itu terasa *beracun*. Janji-janji manis yang dulu terucap, kini menjelma menjadi *belati* yang menusuk jantungnya perlahan. "Aku hanya mencintaimu, Lianhua," bisik Kaisar dulu, kata-kata yang kini bergaung sinis di benaknya. Rinai hujan semakin deras, menutupi isak tertahan Lianhua. Ia *tidak* akan menangis di depan mereka. Ia *tidak* akan memberikan kepuasan pada Selir Mei yang tersenyum sinis padanya. Ia akan tetap menjadi Putri Lianhua yang elegan, yang anggun, yang tidak terpengaruh oleh badai apapun. "Siapkan teh terbaik untuk Yang Mulia dan Selir Mei," perintahnya pada dayang setianya, Caihong. Suaranya tenang, *terlalu* tenang. Teh itu, tentu saja, adalah ramuan rahasia yang telah disiapkannya selama berbulan-bulan. Bukan racun mematikan. Bukan pula obat tidur. Hanya ramuan yang akan membuat Kaisar kehilangan *kemampuannya* untuk menghasilkan keturunan. Lianhua tersenyum tipis. Bukan senyum kemenangan, melainkan senyum *kehilangan*. Ia kehilangan cinta, ia kehilangan kepercayaan, dan ia kehilangan seorang pria yang pernah ia agungkan. Bertahun-tahun kemudian, Kaisar Chen memerintah dengan bijaksana, namun takhta kerajaannya kosong. Selir Mei mencoba segala cara untuk hamil, namun takdir berkata lain. Istana dipenuhi intrik dan ambisi, namun tak ada pewaris sah yang lahir. Lianhua, yang memilih mengasingkan diri di kuil terpencil, mendengar berita itu dengan hati yang hancur. Balas dendamnya terasa *manis dan pahit* sekaligus. Ia telah menghancurkan dinasti, namun ia juga menghancurkan dirinya sendiri. Malam itu, di bawah rembulan purnama, air mata Lianhua mengalir tanpa sesal. Ia tahu, Kaisar Chen akan hidup dengan penyesalan abadi. Penyesalan karena telah menyia-nyiakan cintanya, penyesalan karena telah menghancurkan masa depannya sendiri. Lianhua menutup matanya, dan berbisik pelan, "Cinta dan dendam... lahir dari tempat yang sama."
You Might Also Like: Connie Ted Robinson Image Collection

Share on Facebook