Baiklah, ini dia kisah dracin pendek yang kamu minta: **Kau Menatapku di Tengah Medan Perang, dan Aku Lupa Bagaimana Caranya Membenci** Debu perang mengepul, mewarnai langit senja dengan jingga kelabu. Pedang beradu, teriakan menggema, tapi mataku terpaku padanya. Jenderal Li Wei. Di tengah kekacauan ini, tatapannya menembus segalanya, menancap langsung ke dalam jiwaku. Aneh. Terlalu *aneh*. Aku, Putri Mei Lan, seharusnya membencinya. Ia adalah musuh, panglima perang dari kerajaan utara yang haus darah. Kerajaannya meratakan desaku, membunuh keluargaku… seharusnya, aku membencinya. Tapi setiap kali mata kami bertemu, ada *deja vu* aneh yang menghantui. Sebuah simfoni kenangan samar yang berputar-putar di benakku. Di kehidupan sebelumnya, aku adalah Xian Niang, penari istana yang dicintai Kaisar. Li Wei… di kehidupan itu, ia adalah Pangeran Rui, kakak tiri Kaisar, seorang pria yang diam-diam menyimpan perasaan padaku. Aku ingat senyumnya, senyum teduh yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan raut keras yang kini menghiasi wajahnya. Dulu, Pangeran Rui selalu melindungiku dari intrik istana. Tapi suatu malam, racun merenggut nyawaku. Kaisar menyalahkan musuh politik, tapi aku… aku selalu merasa ada yang *tidak beres*. Bayangan gelap menghantuiku, bisikan pengkhianatan yang tak bisa kujelaskan. Semakin lama aku menatap Li Wei, semakin jelas *segalanya*. Potongan-potongan memori berjatuhan bagai kepingan kaca yang menyusun ulang sebuah lukisan mengerikan. Saat itu, aku melihatnya. Di antara bayangan, aku melihat Pangeran Rui—Li Wei— menuangkan racun ke dalam cangkirku. Kesedihan yang mendalam tercetak di wajahnya, lalu tekad *DINGIN* yang mematikan. Ia mencintaiku, dan dalam pikirannya yang bengkok, cinta itu berarti kepemilikan. Jika ia tidak bisa memilikiku, maka tidak ada orang lain yang boleh. Di medan perang ini, aku mengerti. Li Wei *mengingat*. Rasa bersalah, penyesalan, dan cinta yang tak terbalas, tercetak jelas di matanya. Ia tidak menyangkal. Ia tahu aku tahu. Pertempuran mencapai puncaknya. Pasukan kerajaanku terdesak. Kesempatan itu datang. Aku berdiri di hadapannya, pedang terhunus. Ia tidak melawan. Ia hanya menatapku, memohon maaf tanpa kata. Aku punya pilihan. Aku bisa membunuhnya. Membalas dendam atas kematianku, atas kehancuran desaku. Tapi, melihat kesedihan *ABSOLUT* di matanya, aku tidak bisa. Aku menjatuhkan pedangku. "Akhiri perang ini, Jenderal Li Wei," kataku, suara serak. "Kembalilah ke kerajaamu, dan jangan pernah kembali." Ia tertegun. Ia tahu, pilihan ini lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri. Ia akan hidup dengan beban pengkhianatan abadi, dengan cinta yang tak mungkin, dan dengan kesadaran bahwa aku, Xian Niang yang ia cintai, telah memberinya pengampunan *terburuk*: pengampunan yang menuntutnya untuk hidup dengan penyesalan selamanya. Aku berbalik, meninggalkan medan perang. Meninggalkan Li Wei, meninggalkan masa lalu, dan memilih takdir yang baru. Sebuah takdir di mana aku tidak lagi menjadi korban, tetapi menjadi penentu. Dan di kejauhan, aku mendengar langkah kakinya menjauh, seperti janji yang tertunda seribu tahun: *“Aku akan menunggumu, Xian Niang… di kehidupan selanjutnya.”*
You Might Also Like: Agen Skincare Jualan Online Mudah Kota

Share on Facebook