## Senyum yang Menjadi Pedang di Tengah Malam Lorong istana itu sunyi bagai makam. Obor-obor menari lemah, memproyeksikan bayangan panjang dan menakutkan di dinding berlumut. Aroma cendana bercampur dengan bau lembap, menciptakan suasana yang mencekam. Delapan tahun. Delapan tahun Lin Yue hilang, dianggap tewas dalam pemberontakan di perbatasan utara. Namun malam ini, di bawah rembulan yang pucat, dia berdiri di sini, di jantung istana yang telah merenggut segalanya darinya. "Lama tidak bertemu, *Kakak*," sapa Lin Yue, suaranya lembut bagai hembusan angin malam. Di hadapannya, Kaisar Xuan, saudara kandungnya, duduk di singgasana berlapis emas. Raut wajahnya keras, matanya menyipit curiga. "Yue... Kau masih hidup?" Kaisar Xuan bangkit, jubah naganya bergemerisik. "Aku... aku turut berduka atas kehilanganmu." Lin Yue tersenyum. Senyum yang dulu begitu hangat, kini terasa dingin bagai bilah pedang yang baru diasah. "Turut berduka? Sebuah kata yang aneh dari seseorang yang memerintahkan pasukan untuk meninggalkanku di medan perang." Kabut tipis merayapi pegunungan di luar istana, menyelimuti rahasia kelam yang selama ini dipendam. Kisah Lin Yue yang heroik, kisah pengorbanan demi negara, ternyata hanya bualan istana untuk menutupi pengkhianatan. "Itu demi kekaisaran, Yue! Kau adalah ancaman bagiku! Kau terlalu dicintai rakyat, terlalu kuat!" Nada suara Kaisar Xuan meninggi, menunjukkan kepanikan yang selama ini tersembunyi. "Kekaisaran?" Lin Yue tertawa hambar. "Apakah kekaisaran lebih penting daripada saudara kandung sendiri? Daripada *kebenaran*?" Perlahan, Lin Yue melangkah maju. Setiap langkahnya bagai gema hukuman mati. "Selama delapan tahun, aku hidup di antara kematian, belajar, mengamati, merencanakan. Aku melihat kebusukanmu, Kakak. Aku melihat bagaimana kau menghancurkan negara ini demi kekuasaanmu yang tak pernah cukup." Dia berhenti tepat di depan singgasana. Matanya bertemu dengan mata Kaisar Xuan. "Kau pikir aku korban, Kakak? Kau salah. Aku adalah *arsonis*. Dan api yang akan membakarmu telah menyala sejak lama." Kebenaran akhirnya terbongkar. Pemberontakan di perbatasan bukanlah sekadar pemberontakan. Itu adalah jebakan yang dirancang oleh Lin Yue sendiri, dengan Kaisar Xuan sebagai umpan yang sempurna. Dia membiarkan dirinya "mati" untuk membongkar kebusukan istana dari dalam. Setiap langkah yang diambil Kaisar Xuan, setiap keputusan yang dibuatnya, adalah bagian dari rencana Lin Yue. Kaisar Xuan jatuh berlutut, air mata mengalir di pipinya. "Apa... apa yang akan kau lakukan?" Lin Yue tersenyum lagi. Senyum yang sekarang terasa begitu pahit, begitu dingin, begitu *menghancurkan*. "Aku? Aku hanya akan melakukan apa yang seharusnya kulakukan sejak dulu. Aku akan mengembalikan KEKUASAAN kepada rakyat." Dan senyum itu, senyum seorang korban yang ternyata dalang, akhirnya membungkam sang Kaisar. Di tengah lorong istana yang sunyi, kebenaran terungkap dengan kejam. Semua berjalan sesuai rencana. Selalu. ***Dan di tengah gemuruh angin malam, terbisiklah sebuah kalimat yang membuat semua orang terdiam: "Kau tidak membunuhku, Kakak. Kau hanya membangunkanku."***
You Might Also Like: Seru Aku Menulis Surat Perpisahan Tapi

Share on Facebook