## Kau Mencium Tangannya di Depan Semua Orang, Tapi Menciumku dalam Pikiranmu HUJAN jatuh di atas makam. Bukan rintik manja yang menyejukkan, melainkan air mata langit yang berat, menghantam nisan dengan irama sendu. Di bawah payung usang, berdiri seorang pria. Wajahnya keras, dibingkai rahang tegas dan mata gelap yang menyimpan badai. Dia adalah Lin Wei, pewaris tunggal keluarga Lin yang disegani. Di sampingnya, berdiri anggun seorang wanita. Gaun putihnya berkibar lembut ditiup angin, wajahnya tertunduk, bibirnya mengucap doa yang tak terdengar. Inilah pemakaman Mei Lan, mantan kekasih Lin Wei. Namun, di antara tetesan hujan yang membasahi bumi dan doa yang bergema lirih, ada kehadiran lain. Bayangan kabur, nyaris tak terlihat, berbisik di antara nisan. Itu adalah Mei Lan sendiri, atau lebih tepatnya, arwah Mei Lan. Ia mengamati adegan di depannya dengan tatapan pilu. Tangannya yang tembus pandang terulur, ingin menyentuh Lin Wei, tetapi hanya menembus udara. *_Dulu, tangan itu begitu sering ia genggam..._* pikirnya. Saat Lin Wei membungkuk dan *MENCIOUM* tangan wanita di sampingnya – tunangannya – Mei Lan merasakan sesuatu berdenyut di dadanya. Bukan amarah, bukan dendam. Hanya rasa sakit yang amat dalam. Karena ia tahu, di balik ciuman di tangan tunangannya, pikiran Lin Wei terbang kepadanya. Kepada kenangan mereka yang terkubur di bawah hamparan mawar merah. Dulu, Mei Lan dan Lin Wei adalah dua jiwa yang menemukan satu sama lain di tengah keramaian kota. Cinta mereka tumbuh subur di balik tawa, janji, dan rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu. Namun, kebahagiaan itu dirampas. Mei Lan meninggal dalam kecelakaan tragis, meninggalkan Lin Wei dengan seribu tanya dan satu kebenaran yang tak sempat terucap. Sekarang, ia kembali. Bukan untuk menuntut balas, bukan untuk menghantui. Ia hanya ingin **MENUNTASKAN**. Ia ingin Lin Wei tahu kebenaran yang ia pendam. Kebenaran yang akan membebaskan keduanya dari belenggu masa lalu. Arwah Mei Lan mengikuti Lin Wei kemanapun ia pergi. Ia melihat bagaimana Lin Wei menyiksa dirinya dengan kerja keras, berusaha mengubur kenangan mereka. Ia melihat bagaimana Lin Wei tersenyum palsu kepada tunangannya, matanya kosong, pikirannya jauh. Suatu malam, Lin Wei berdiri di depan lukisan Mei Lan. Bayangan rembulan membelah wajahnya, separuh gelap, separuh terang. Ia menatap lukisan itu lama, sangat lama, seolah berusaha menemukan jawaban di balik senyum Mei Lan. Mei Lan berdiri di sampingnya, mengulurkan tangan dingin ke arah lukisan itu. *"Dulu kau selalu memuji mataku yang berbinar..."* bisiknya. Namun, tentu saja, Lin Wei tak bisa mendengarnya. Lalu, Mei Lan memutuskan untuk *bertindak*. Dengan sisa energinya, ia membisikkan serangkaian kata ke dalam pikiran Lin Wei. Kata-kata itu adalah kunci. Kunci untuk membuka kotak Pandora yang berisi kebenaran. Lin Wei terkejut. Ia merasa seperti mendengar suara Mei Lan. Ia menoleh, mencari-cari, tetapi hanya menemukan kesunyian. Namun, suara itu terus bergema di benaknya, menuntunnya menuju sebuah kotak kecil yang disembunyikan Mei Lan di balik lukisan itu. Di dalam kotak itu, terdapat sepucuk surat. Surat yang berisi pengakuan Mei Lan. Bukan tentang cinta, bukan tentang penyesalan. Melainkan tentang... *Kedamaian*. Mei Lan mengidap penyakit parah. Ia tahu hidupnya tak akan lama. Ia tak ingin memberatkan Lin Wei. Ia tak ingin Lin Wei melihatnya menderita. Maka, ia memutuskan untuk pergi. Ia mengatur segalanya, termasuk kecelakaan itu. Ia ingin Lin Wei membencinya, sehingga Lin Wei bisa melupakannya dan melanjutkan hidup. Air mata mengalir di pipi Lin Wei. Ia tersenyum, getir. *"Bodohnya aku,"* bisiknya. Di saat itulah, Mei Lan merasakan sesuatu yang aneh. Rasa sakit di dadanya menghilang. Beban yang selama ini ia pikul, lepas. Ia merasa ringan, bebas. Ia tahu, tugasnya telah selesai. Lin Wei telah mengetahui kebenaran. Ia telah menemukan kedamaian. Ia menatap Lin Wei untuk terakhir kalinya. Lin Wei mengangkat wajahnya, seolah merasakan kehadirannya. Mereka bertatapan, mata bertemu mata. *_Bukan balas dendam yang aku cari, melainkan kedamaian untukmu..._* Arwah Mei Lan tersenyum... untuk terakhir kalinya.
You Might Also Like: 104 Why Is Disc Jockey Entertainment

Share on Facebook