Aku Memeluk Kesuksesan, Tapi Kehilangan Arti Bahagia
Aku Memeluk Kesuksesan, Tapi Kehilangan Arti Bahagia
Malam di Beijing terasa berat. Udara membeku, menusuk tulang hingga ke sumsum. Di atas hamparan salju yang belum ternoda, setetes darah jatuh, mewarnai keputihan dengan noda merah yang mengerikan. Itulah darah Jiang Wei, CEO muda paling berpengaruh di Tiongkok, berdiri di puncak kesuksesan yang dibeli dengan harga terlalu mahal.
Di seberangnya, berdiri Lin Mei. Wajahnya pucat pasi diterangi rembulan, matanya berkilat menyimpan lautan dendam. Aroma dupa melayang di antara mereka, bercampur dengan aroma logam amis yang berasal dari pisau di tangannya. Dua jiwa yang terikat, bukan oleh janji manis, melainkan oleh benang merah KEBENCIAN.
"Kau pikir kau menang, Jiang Wei?" desis Lin Mei, suaranya bergetar menahan amarah yang membara bertahun-tahun. "Kau pikir uang bisa membeli segalanya? Bahkan... NYAWA keluargaku?"
Jiang Wei tertawa hambar. "Lin Mei, kau naif. Di dunia ini, hanya yang kuat yang bertahan. Ayahmu... hanyalah batu sandungan di jalanku menuju puncak."
Sebuah memori pahit melintas di benak Lin Mei. Ayahnya, seorang pengusaha jujur yang difitnah dan dijebak oleh Jiang Wei demi melenyapkan pesaing. Lalu, kematian ibunya karena patah hati. Semuanya, terbakar dalam kobaran api dendam yang tak terpadamkan.
"Dulu, aku mencintaimu," bisik Lin Mei, air mata membeku di pipinya. "Dulu, aku percaya pada janji-janji kosongmu di atas abu kenangan indah kita. Tapi sekarang... aku melihatmu apa adanya: MONSTER!"
Kilatan baja menyobek udara. Jiang Wei terhuyung. Sakit. Namun, bukan rasa sakit fisik yang menghantuinya, melainkan tatapan dingin Lin Mei. Tatapan yang tak lagi mengenal cinta, hanya ada kekosongan dan dendam yang terpuaskan.
"Ini... untuk ayahku. Untuk ibuku. Untuk semua yang kau rampas dariku," ucap Lin Mei lirih, senyum tipis bermain di bibirnya. Balas dendamnya bukan dengan teriakan histeris atau amukan membabi buta. Melainkan sebuah tindakan tenang, terukur, dan MEMATIKAN.
Jiang Wei jatuh ke salju, matanya menatap langit yang kelabu. Kesuksesan yang selama ini ia kejar, kini terasa seperti rantai yang mengikatnya ke neraka. Ia memiliki segalanya, tapi kehilangan semua yang berarti. Kebahagiaan? Itu hanyalah ilusi.
Lin Mei berbalik, meninggalkan Jiang Wei dan jejak darah di salju. Dendamnya terbalaskan, tapi hatinya tetap kosong. Ia tidak merasakan kemenangan, hanya kehampaan.
Di bawah rembulan yang dingin, dia berbisik, "Hidupmu akan menjadi neraka abadi, Jiang Wei. Karena kini... bayang-bayangku akan menghantuimu selamanya."
... Dan malam itu, salju menelan segala rahasia, kecuali satu: suara detak jantung yang semakin pelan, dan janji dendam yang akan terus bergema di keabadian.
Di dalam keheningan itu, sebuah kebenaran baru mulai tumbuh, seperti jamur mematikan di atas tanah yang subur oleh darah dan air mata, kebenaran yang akan mengungkap bahwa kematian Jiang Wei hanyalah babak awal dari permainan yang lebih besar...
You Might Also Like: Cerpen Terbaru Senyum Yang Tak Sempat