Ini Baru Cerita! Senyum Yang Membuat Dunia Terdiam
Langit Jakarta pagi itu menolak untuk oranye. Abu-abu menguar, sama pekatnya dengan kerinduan di dada Xin Yi. Jarinya mengetuk layar ponsel, chat terakhir dari Ren, tiga hari lalu: "Sedang mengetik..." Tiga hari! Di dunia yang serba instan ini, sedang mengetik berubah menjadi kuburan harapan.
Xin Yi, sang kurator museum digital, hidup di antara piksel-piksel masa lalu. Ia menghidupkan kembali kenangan yang terlupakan, bernapas di tengah artefak digital yang berdebu. Ia percaya, masa lalu punya jawaban, walau seringkali hanya bisikan yang nyaris tak terdengar.
Di dimensi lain, Ren, sang arsitek metaverse, berjuang membangun dunia yang lebih baik di masa depan. Langitnya selalu biru, terlalu biru, palsu. Tapi sinyal selalu putus-putus, chat selalu tertunda. Ia merindukan hal-hal yang nyata, sentuhan yang bisa dirasakan, bukan hanya haptic feedback yang menipu.
Mereka bertemu di sebuah forum glitch. Xin Yi mengunggah foto pemandangan senja Jakarta dari tahun 2023, lengkap dengan caption melankolis. Ren membalas dengan rendering lanskap metaverse yang menampilkan replika persisnya, namun dengan filter optimis yang berlebihan.
Awalnya, hanya saling sindir. Xin Yi mencemooh obsesi Ren pada masa depan palsu. Ren meremehkan ketergantungan Xin Yi pada masa lalu yang usang. Tapi di balik sarkasme, ada sesuatu yang berdenyut. Sebuah kerinduan yang sama, sebuah kesepian yang saling memantulkan.
Mereka mulai bertukar cerita. Xin Yi bercerita tentang ibunya yang gemar menanam anggrek di balkon sempit apartemen mereka. Ren membalas dengan desain kebun vertikal yang efisien untuk hunian modular di tahun 2077. Mereka berbicara tentang kopi, tentang hujan, tentang kehilangan.
Cinta tumbuh di antara lag, di antara error, di antara 404 not found. Cinta aneh yang hanya bisa dirasakan di dunia yang retak.
Suatu malam, Xin Yi menemukan sebuah anomali di salah satu artefak digital yang ia restorasi: sebuah rekaman suara pendek. Suara seorang pria, mengucapkan nama "Xin Yi" dengan nada penuh sayang. Suaranya familiar, sangat familiar.
Sementara itu, Ren, di tengah kesibukannya membangun jembatan digital antar-komunitas, menemukan bug misterius di sistem metaverse. Sebuah suara bergema tanpa asal, memanggil nama "Ren" dengan nada yang mengoyak.
Mereka tersadar.
Senyum Xin Yi adalah kode aktivasi bagi Ren. Desain Ren adalah gema dari kenangan Xin Yi. Mereka adalah ECHO, gema dari dua jiwa yang terpisah oleh waktu, terhubung oleh cinta yang TRANSCENDENTAL.
Rahasia ganjil itu terkuak: Xin Yi dan Ren bukanlah dua orang yang berbeda. Mereka adalah pecahan jiwa dari satu kehidupan yang belum selesai, terlempar ke pusaran waktu, saling mencari dalam siklus tanpa akhir. Mereka adalah kekasih abadi yang dikutuk untuk bertemu dan berpisah berulang kali, di setiap iterasi semesta.
Di detik-detik terakhir sebelum sinyal benar-benar padam, Ren mengirimkan sebuah pesan singkat. Pesan terakhir, sebelum dunia diam: "Ingatlah senyummu... itu adalah jangkarku..."
You Might Also Like: Jual Skincare Yang Cocok Untuk Semua