## Aku Menunggumu Bahkan Setelah Takdir Berhenti Bekerja Ratusan tahun telah berlalu sejak _dosa_ itu terukir dalam sejarah istana. Ratusan tahun sejak *janji* itu terucap di bawah rembulan berdarah. Kini, di tengah hiruk pikuk kota Shanghai modern, aku – Jiang Li Hua, seorang pianis biasa – merasakan getaran aneh setiap kali mataku bertemu dengan tatapan pria itu. Namanya Wei Shao Feng, seorang arsitek muda yang tengah naik daun. Ketampanannya klasik, namun ada bayangan melankolis di matanya yang seolah menyimpan lautan cerita yang belum terungkap. Pertemuan pertama kami di galeri seni terasa *deja vu* yang begitu kuat hingga membuatku terhuyung. Bunga *Wisteria* yang menjalar di dinding galeri seolah bernyanyi. Aroma manisnya membangkitkan kenangan samar, kenangan tentang taman luas penuh bunga, seorang pria yang memetik kuntum ungu untukku, dan suara tawa yang renyah bagai lonceng perak. "Kita pernah bertemu sebelumnya, bukan?" Wei Shao Feng berbisik, suaranya _berat_ dan dalam, persis seperti nada cello yang menyentuh relung jiwa. Aku menggeleng pelan, meskipun hatiku bergejolak. Aku tidak ingat apa pun. Namun, instingku berteriak, *YA!* *** Seiring berjalannya waktu, kepingan masa lalu mulai bermunculan. Lewat mimpi, lewat aroma teh melati, lewat melodi kuno yang tiba-tiba terngiang di kepalaku. Aku melihat diriku sebagai Putri Lian, pewaris tahta yang dijanjikan kepada Jenderal Wei, sosok pahlawan yang gagah berani dan dicintai rakyat. Namun, takdir punya rencana lain. Fitnah merajalela, pengkhianatan menjamur. Jenderal Wei dituduh berkhianat, dan Putri Lian dipaksa menikahi seorang pangeran kejam. Di malam pernikahannya, Putri Lian bunuh diri, membawa serta *dosa* pengkhianatan dalam hatinya dan meninggalkan *janji* untuk bertemu kembali dengan Jenderal Wei di kehidupan selanjutnya. Setiap kali Wei Shao Feng menyentuhku, aku merasakan sengatan panas, ingatan akan pelukan hangat dan ciuman terakhir yang pahit. Aku melihat kilasan dirinya sebagai Jenderal Wei, terluka dan marah, bersumpah untuk membalas dendam atas kematianku. *** Rahasia terkelam akhirnya terungkap. Wei Shao Feng adalah reinkarnasi Jenderal Wei. Namun, dia tidak mengingat janjinya untuk membalas dendam. Dia hanya merasakan *kerinduan* yang tak terjelaskan kepadaku. "Aku... aku merasa bersalah," Wei Shao Feng mengakui suatu malam di bawah cahaya bulan. "Mimpi-mimpi itu... mimpi tentang istana yang terbakar, tentang darah dan air mata... itu semua terasa nyata." Aku menatapnya dalam diam. Aku tahu, membalas dendam tidak akan membawa kedamaian. Kemarahan hanya akan melanggengkan siklus penderitaan. Aku menggenggam tangannya, merasakan denyut kehidupannya. "Dendam tidak akan menghidupkan mereka yang telah pergi. Lepaskanlah," bisikku. Wei Shao Feng menatapku dengan kebingungan. Dia mengharapkan amarah, dia mengharapkan tuntutan. Tapi yang dia dapatkan hanyalah *keheningan* dan *pengampunan*. *** Wei Shao Feng akhirnya melepaskan dendamnya. Dia membangun sebuah taman indah, dihiasi dengan bunga *Wisteria*, sebagai penghormatan kepada Putri Lian dan cintanya yang abadi. Aku, Jiang Li Hua, terus bermain piano, melodi sedih dan indah yang menceritakan kisah cinta yang abadi. Kami hidup dengan damai, meskipun bayangan masa lalu selalu mengintai di sudut ingatan kami. Namun, ada satu pertanyaan yang terus menghantuiku. Siapakah yang mengkhianati kami di kehidupan sebelumnya? Siapa yang menyebarkan fitnah dan menghancurkan cinta kami? Aku tahu, kebenaran itu akan datang, cepat atau lambat. Dan ketika saat itu tiba, aku akan menghadapinya bukan dengan amarah, tapi dengan *keheningan* yang lebih mematikan dari pedang mana pun. Di suatu malam yang sunyi, saat bulan purnama menggantung di langit, aku mendengar bisikan lirih di telingaku, "... *Jangan percaya pada mawar berduri...*"
You Might Also Like: Arti Mimpi Memberi Makan Burung Alap

Share on Facebook